
MetroTimes (Surabaya) – Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur, Drs. Djoko Adi Walujo, S.T., M.M., menyampaikan keprihatinannya terhadap aksi-aksi anarkis yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya mencederai nilai demokrasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma psikologis pada anak-anak serta menghambat proses belajar-mengajar.
“Saya sebagai Ketua PGRI Jawa Timur melihat situasi yang ada tentu sangat miris. Mengapa miris? Karena kalau ditonton oleh anak-anak yang masih kecil, itu bisa menjadikan sebuah trauma bahkan menjadi stressor secara psikologis,” ujarnya, Jumat (5/9/2025).
Ia menjelaskan, aksi yang bermula dari semangat berdemokrasi justru berubah menjadi tontonan yang tidak mendidik ketika berujung pada kericuhan dan kekerasan. “Itu akan menjadi tontonan buruk sekaligus menghambat proses pembelajaran,” tegasnya.
Djoko juga menyinggung dampak tidak langsung, yaitu terganggunya kegiatan belajar-mengajar. Banyak sekolah yang terpaksa mengalihkan pembelajaran ke sistem daring secara mendadak. Padahal, menurutnya, pembelajaran daring membutuhkan persiapan matang.
“Ketika daring apa yang terjadi? Jadi tidak hanya daring begitu saja, tapi harus ada persiapan-persiapan yang matang, seperti menyiapkan peralatan dan sebagainya. Kondisi mendadak semacam itu juga bisa menimbulkan konflik batin di dalam keluarga,” jelasnya.
Meski demikian, Djoko menegaskan bahwa PGRI tetap mendukung demokrasi sepanjang dilakukan dengan cara santun dan damai. “Demokrasi harus dijalankan dengan damai, santun, dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai tindakan anarkis menjadi contoh buruk bagi anak-anak kita. Ini tidak boleh terjadi lagi di Indonesia,” pungkasnya.
(nald)




