- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Dalam rangka menjaga tradisi dan adat istiadat nenek moyang. Desa Ganggeng, Kecamatan Purworejo kembali menggelar pertujukan wayang Kulit semalam suntuk. Kegiatan dalam rangka selamatan desa tersebut dilaksanakan dialun-alun desa setempat pada, Minggu (18/11) malam.

Ribuan penonton dari bebagai wilayah desa setempat dan sekitarnya memenuhi lokasi pertunjukan. Tidak ketinggalan dari jajaran Forkominda Kabupaten Purworejo baik dari unsur eksekutif maupun legislatif.

Ki Sri Susilo atau yang akrab disapa Ki Thengkleng dari Kabupaten Boyolali bertindak sebagai dalang dalam pertunjukan ini. Dengan memainkan lakon Wahyu Kamulyan. Dimana dalam cerita ini digambarkan suatu negara yang sedang mengalami krisis kepemimpinan.

“Pitutur jawa ini yang harus kita pegang bersama dalam rangka mencari seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan,” ujar Ki Thengkleng ditemui sebelum pertunjukan.

ads

Penyebab adanya krisis kepemimpinan itu ia melanjutkan, karena ketidakpahaman syarat mutlak menjadi seorang pemimpin. Dengan menghadirkan sosol Petruk yang melakukan kritik pedas kepada Pemerintahan yang sah, sang dalang yang memainkan lakon Wahyu Kamulyan memberikan gambaran bagaimana layaknya seorang pemimpin menurut pitutur Jawa.

“Para pemimpin itu jangan hanya mengumbar emosi dan nafsu pribadi. Para pemimpin yang ada tersebut hanya mengumbar kepentingan kelompoknya, tidak memperhatikan kepentingan rakyat itu bukan kebudayaa kita,” katanya.

Suasana menjadi tambah meriah ketika Ki Dalang Thengkleng naik ke mimbar pertunjukan. Seluruh masyarakat terlihat dengan khusyuk mengikuti alur cerita yang disajikan, ditambah dengan kritik pedas dan culas yang menyinggung kondisi realitas saat ini. Cerita mengalami titik puncak ketika tokoh Petruk dirasuki oleh Dewa Ruci dan menjabarkan Hasta Brata, yang memiliki makna 8 nilai kepimpinan.

Ajaran Hasta Brata yang dijelaskan oleh Petruk yaitu berisi 8 ajaran perilaku yang harus dipunyai seorang pemimpin, pertama Watak Surya atau matahari dimana memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang sebagai gambaran keadilan. Yang kedua Watak Candra atau Bulan diteladani memancarkan sinar kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah.

“Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, tanpa ada kekerasan atau ancaman,” ujar Ki Thengkleng.

Yang ketiga Watak Kartika atau Bintang diteladani memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Ke empat Watak Angkasa yaitu Langit diteladani ke luasan tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Kelima watak Maruta atau Angin diteladani selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong.

Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Ke enam Watak Samudra yaitu Laut atau Air diteladani seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

Ketujuh Watak Dahana atau Api diteladani Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan harus bisa menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu. Dan terakhir watak Bumi yaitu Tanah diteladani mempunyai sifat kuat dan bermurah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan rakyatnya.

Sementara Ketua Panitia Suranto menuturkan pergelaran wayang kulit memiliki nilai sangat penting. Selain dapat memberi ruang renungan bagi masyarakat pun untuk berkreasi. Selain itu juga memperkenalkan dan menanamkan kecintaan khasanah budaya kepada generasi muda.

“Wayang tidak hanya menghadirkan tontonan, tapi juga tuntunan. Melalui cerita penuh filosofi dan ajaran luhur yang tercermin dari watak karakter tokoh wayang yang mencerminkan kepribadian manusia secara utuh,” katanya.

Disampaikan pula wayang juga dapat dipakai sebagai sarana kegiatan memajukan nilai-nilai universal seperti keadilan, kesetaraan, demokrasi dan kebangsaan. Pasalnya seni budaya merupakan warisan leluhur yang diturunkan bagi generasi selanjutnya untuk dijaga dan dilestarikan perkembangannya.

“Harapanya pagelaran ini dapat memberikan dampak positif di Desa Ganggang, tambah makmur dan dijaga dari segala macam bencana,” ungkap Suranto yang juga Plt Dinas PUPR Kabupaten Purworejo. (Daniel)