
MetroTimes (Surabaya) – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al-Aziziyah Surabaya kembali menggelar kegiatan Bimbingan Manasik Haji yang diikuti sekitar 250 calon jamaah haji. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu, 28 Desember 2025 tersebut menjadi bagian dari agenda rutin manasik yang diselenggarakan dua kali setiap bulan sebagai persiapan menghadapi musim haji tahun 2026.

Sekretaris KBWL Al-Aziziyah Surabaya, Arief Sukiyanto, menyampaikan bahwa manasik ini merupakan agenda tahunan yang konsisten dilakukan untuk memberikan pemahaman dan kesiapan maksimal kepada calon jamaah.
“Alhamdulillah, kegiatan manasik ini setiap tahun selalu ada. Untuk hari ini yang hadir sekitar lima bus jamaah,” ujar Arief.
Ia menjelaskan, pelaksanaan manasik dua kali dalam sebulan, khususnya pada hari Minggu, bertujuan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk proses pelunasan tahap pertama dan kedua yang seringkali dipengaruhi oleh perubahan kebijakan pemerintah.
“Kebijakan pemerintah kadang berubah-ubah, tidak ada pakem yang tetap, sehingga cukup membingungkan. Manasik ini diharapkan bisa memberikan kenyamanan sekaligus mengantisipasi persoalan-persoalan seputar ibadah haji tahun 2026,” tambahnya.
Program Lengkap Hingga Tanah Suci
Arief juga memaparkan sejumlah program unggulan yang ditawarkan KBIHU Al-Aziziyah. Selain manasik di tanah air, jamaah juga mendapatkan manasik langsung di Arab Saudi, serta rangkaian ibadah selama kurang lebih 40 hari.
“Selain umrah wajib, jamaah juga mendapatkan umrah sunnah hingga tujuh kali, ziarah gratis ke Jeddah dan Thaif, serta ziarah di Madinah seperti ke Jabal Uhud dan lokasi bersejarah lainnya. Kami juga mengajak jamaah ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi, agar selain ibadah juga mendapatkan penyegaran,” jelasnya.
Hingga saat ini, jumlah calon jamaah yang terdaftar mencapai sekitar 250 orang, atau setara dengan enam bus. Mayoritas jamaah berasal dari Surabaya, meskipun ada pula dari daerah sekitar seperti Sidoarjo, Mojokerto, dan Bangkalan.
“Insya Allah separuh pesawat nanti diisi jamaah dari KBIHU Al-Aziziyah Surabaya. Mayoritas memang warga Surabaya,” ungkap Arief.
Soroti Kebijakan Pemerintah
Dalam kesempatan tersebut, Arief juga menyampaikan sejumlah masukan kepada pemerintah, khususnya terkait kebijakan pendampingan jamaah lansia yang dinilai belum konsisten.
“Yang menjadi kendala adalah kebijakan yang tidak ada pakemnya. Tahun lalu, jamaah lansia cadangan masih bisa didampingi keluarga atau digabung dengan pasangan. Sekarang kebijakan itu berubah, sehingga lansia tidak bisa didampingi, padahal ini menyangkut pelayanan dasar di Mekah,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada jamaah, khususnya mereka yang telah menunggu belasan tahun.
“Harapan kami, kebijakan ke depan bisa memudahkan jamaah haji agar tidak menimbulkan stres dan kekecewaan, terutama bagi jamaah yang sudah menunggu 13 tahun atau lebih,” tegasnya.
Jamaah Tertua 85 Tahun
Arief juga menyebutkan, jamaah tertua tahun ini berusia 85 tahun, sementara jamaah termuda sekitar 30 tahun, yang merupakan pelimpahan porsi dari orang tua yang telah meninggal dunia.
Sementara itu, salah satu jamaah, Lores Berjawati, asal Mojo, Surabaya, mengaku bersyukur dapat mengikuti manasik bersama KBIHU Al-Aziziyah.
“Jamaah yang hadir tidak hanya dari Surabaya, tapi juga dari Mojokerto, Sidoarjo, dan Madura. Hari ini sekitar 250 jamaah,” katanya.
Ia berharap ke depan KBIHU Al-Aziziyah semakin berkembang dan proses ibadah haji seluruh jamaah berjalan lancar.
“Semoga ke depannya jamaahnya semakin banyak, semua proses dari keberangkatan sampai pelaksanaan haji dimudahkan, dan semuanya menjadi haji yang mabrur,” pungkasnya.
(nald)




