
Metro Times (Purworejo) Embung yang terletak di Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo hingga kini tak terselesaikan pembangunannya alias mangkrak. Alih-alih ingin mengatasi masalah kekeringan ketika kemarau datang, justru embung ini tak kunjung berfungsi dan malah jadi penyebab banjir ketika penghujan.
Dengan panjang sekitar 600 meter, lebar 250 meter dan kedalaman 5 meter, embung tersebut membentang di tiga desa yakni Rejosari, Dudu Wetan, Dudu Kulon dan Bakurejo, Kecamatan Grabag, Purworejo. Sayangnya, embung yang dibangun sekitar tahun 2017 itu mangkrak dan belum terselesaikan pembangunannya.
“Pembangunannya sekitar tahun 2017 dan berhenti sekitar tahun 2021 pas ada Covid-19. Tapi sampai sekarang tidak dilanjutkan, mangkrak,” kata Kasi Kesra Desa Dudu Kulon, Legiran saat ditemui di kantor desa, Kamis (5/10/2023).
Awalnya, embung dari awal dibangun dengan anggaran APBD Rp5 miliar itu digarap oleh Pemkab Purworejo. Namun, entah ada masalah apa akhirnya pengerjaan dihandle oleh Provinsi. Setelah jalan beberapa saat, proyek itu lagi-lagi mandek dan tak ada kabar kelanjutan pembangunannya hingga sekarang.
Alih-alih ingin mengatasi kekeringan saat kemarau datang, justru mangkraknya embung itu jadi penyebab masalah banjir di wilayah itu. Embung juga dipenuhi enceng gondong. Warga berharap agar embung bisa segera dibangun sampai tuntas dan berfungsi dengan baik sehingga bermanfaat bagi semua.
“Dengan adanya embung lahan pertanian jadi banjir pas musim hujan soalnya tidak bisa kebuang. Terus pas musim kemarau gini air laut rob naik ke tanaman dan akhirnya mati semua. Ya keinginan kami embung segera dibangun lanjut, terus pembuangannya juga dibuat biar kalau hujan bisa kering,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu petani, Bino (54) juga menuturkan hal yang tak jauh beda. Sawah miliknya selalu kebanjiran jika musim penghujan datang. Ia menginginkan agar setidaknya dibangun empat jalan bedahan sehingga air yang tertahan tanggung embung bisa mengalir lancar.
“Ya banjir kalau hujan, pinginnya ya ada bedahan buat jalan air paling tidak empat biar nggak banjir,” sebutnya.
Petani lain, Kuat (65) mengaku hasil panen padinya tak pernah bisa mencapai hasil yang memuaskan. Jika kemarau, sawahnya kekurangan air dan jika penghujan selalu banjir. Ia berharap agar nantinya keberadaan embung bisa bermanfaat untuk meningkatkan hasil panen.
“Ya dibikinkan parit ke timur mungkin jadi nggak banjir. Sawah banjir kalau hujan, kalau kemarau gini kering. Paling panen 60 persen saja. Ya pinginnya embung bisa berfungsi biar untuk mengairi sawah saat kemarau dan gak banjir, jadi hasil panen bisa meningkat,” ucapnya. (dnl)




