- iklan atas berita -

Metro Times, (Purworejo)-Masyarakat di Kabupaten Purworejo terutama yang berada di wilayah berisiko diminta berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pemadam tradisional dinilai jadi solusi yang cukup efektif.

Pemerintah Kabupaten Purworejo, Kamis (23/7) menggelar Apel Siaga Bencana Kekeringan serta Kebakaran lahan dan hutan. Apel ini untuk mengecek kesiapan personel serta peralatan yang dibutuhkan dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Untuk penanganan Karhutla di Purworejo kita laksanakan bersama antara Pemkab Purworejo, TNI, Polri, KPH, Kemenhut hingga relawan. Kita juga menjalin kerjasama dengan PT Borneo melalui program CSR-nya,” ucap Sekda Purworejo, Suranto usai apel tersebut.

Suranto mengutarakan, dari 16 ada 8 kecamatan di Purworejo yang rentan terhadap bencana kebakaran dan kekeringan. Ia mengimbau di masa kemarau masyarakat hati-hati dalam membakar sampah.

Kepala Pelaksana BPBD Purworejo, Wasit Diono mengemukakan, prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kabupaten ini masuk dalam zona wilayah yang akan mengalami kemarau cukup panjang antara 6 hingga 8 bulan. Hal ini dapat memicu peningkatan potensi risiko bencana kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan.

ads

“Untuk kekeringan ada 5 hingga 6 wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Di situ sumber air bersih betul-betul kurang. Kami sudah melakukan antisipasi dengan menyiapkan stok air bersih dan beberapa desa sudah mengajukan permintaan droping,” kata Wasit.

Sementara terkait potensi kebakaran, lanjut Wasit, pemerintah daerah bersama lintas sektor juga sudah melakukan upaya mitigasi. Rapat Koordinasi sudah beberapa kali dilaksanakan dimana puncaknya digelar apel siaga di Alun-alun Purworejo pada Kamis pagi.

“Personel dan peralatan sejauh ini sudah siap meski demikian kita berharap bencana ini tidak terjadi,” kata Wasit lagi.

Ia pun mengharap peran aktif relawan serta masyarakat terutama di wilayah rentan terbakar. Benar bahwa pemerintah daerah bersama instansi terkait telah menyiapkan sarana pemadam, meskipun demikian sarana dan prasarana tersebut belum tentu bisa menjangkau lokasi.

Berkaca dari kejadian tahun-tahun sebelumnya Karhutla umumnya terjadi di lereng-lereng bukit yang sulit dijangkau. Untuk itu alat pemadam tradisional yang melibatkan warga dinilai lebih efektif.

“Medannya cukup sulit, seperti lereng-lereng bukit sehingga mobil pemadam tidak bisa langsung ke lokasi. Maka alat pemadam tradisional seperti gepyok yang memanfaatkan ranting-ranting pohon basah justru lebih efektif,” ujarnya lagi.(toyib)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!