
MetroTimes (Surabaya) – Taman Bungkul, ikon ruang terbuka hijau Kota Surabaya yang dulu dikenal ramah anak, kini dinilai kehilangan fungsinya sebagai area bermain. Kondisi tersebut disoroti para orang tua lantaran area yang biasanya digunakan anak-anak untuk bermain bola, berlari, atau bermain layang-layang kini dipenuhi oleh pedagang kaki lima.
Dari pantauan di lapangan, lapangan tengah Taman Bungkul yang dahulu menjadi pusat aktivitas anak-anak kini diisi deretan pedagang dengan berbagai dagangan, mulai dari mainan, balon, hingga kuliner. Keberadaan pedagang bahkan sampai memasuki area yang sebelumnya bebas untuk anak-anak beraktivitas.
“Dulu anak-anak bisa main bola, baling-baling helikopter, lari-lari, kejar-kejaran. Sekarang tidak bisa lagi karena penuh pedagang. Anak-anak yang tadinya datang untuk bermain sekarang hanya melihat orang berjualan,” keluh salah satu orang tua yang ditemui di lokasi.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik terhadap sikap Pemerintah Kota Surabaya. Warga menilai, Pemkot seakan membiarkan kondisi ini berlanjut sehingga menggerus predikat Surabaya sebagai kota ramah anak.
“Surabaya yang ramah anak sekarang hanya tinggal slogan. Kami berharap Pemkot segera mengembalikan fungsi Taman Bungkul seperti dulu, agar anak-anak bisa kembali leluasa bermain,” harap warga.
Hingga berita ini diturunkan, Pemkot Surabaya belum memberikan keterangan resmi terkait penataan ulang area bermain di Taman Bungkul.
(nald)





