
MetroTimes (Surabaya) – Rumah produksi Mahakarya Pictures bersama MBK menghadirkan film terbaru berjudul Pelangi di Mars, sebuah karya bergenre fiksi ilmiah (sci-fi) yang dipadukan dengan drama keluarga. Film ini mengangkat kisah petualangan manusia dan robot dengan latar masa depan, sekaligus menyampaikan pesan kuat tentang persahabatan, ketangguhan, dan harapan bagi bumi.
Disutradarai oleh Upie Guava, film ini tidak hanya mengandalkan visual futuristik, tetapi juga menonjolkan nilai kemanusiaan. Dalam keterangan pers, Upie menjelaskan bahwa cerita berpusat pada karakter Pelangi, seorang anak yang mampu menyatukan perbedaan antara manusia dan robot.
“Seorang anak manusia, si Pelangi ini dengan para robot yang awalnya saling berantem, saling tidak akur karena perbedaan. Lantas karena keluguannya, Pelangi menjadi sebuah harmoni yang indah,” ujar Upie.
Latar Tahun 2100 dan Krisis Air Bumi
Pelangi di Mars mengambil setting tahun 2100, ketika Bumi mengalami krisis air akibat pencemaran dan eksploitasi berlebihan. Cerita mengikuti Pelangi (Messi Gusti), seorang gadis berusia 12 tahun yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Mars.
Ia hidup seorang diri setelah ditinggal ibunya, Pratiwi (Lutesha), ketika koloni manusia meninggalkan planet tersebut. Kesendiriannya berubah ketika ia bertemu dengan sekelompok robot rusak yang telah lama ditinggalkan.
Bersama para robot tersebut, Pelangi menjalankan misi penting: menemukan mineral langka bernama Zeolith Omega yang diyakini mampu memurnikan air di Bumi dan menjadi harapan terakhir umat manusia.
Dorong Imajinasi Anak Lewat Sci-Fi
Upie Guava mengungkapkan bahwa ide film ini berangkat dari minimnya film anak di Indonesia, khususnya yang mampu menginspirasi.
Menurutnya, genre sci-fi memiliki peran penting dalam membentuk visi peradaban. Ia mencontohkan bagaimana tokoh-tokoh global terinspirasi dari karya fiksi ilmiah.
“Kami ingin memberikan kontribusi untuk film anak dan sci-fi di Indonesia. Kami ingin anak-anak punya mimpi, ingin jadi astronot, saintis, dan menjelajah dunia,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa cerita dalam film ini tidak hanya berskala nasional, tetapi global hingga antariksa, dengan tokoh utama berasal dari Indonesia yang memimpin robot dari berbagai negara untuk menyelesaikan masalah dunia.
Teknologi XR dan Produksi 100 Persen Lokal
Dalam proses produksinya, Pelangi di Mars menggunakan teknologi Extended Reality (XR), yang memungkinkan penciptaan latar virtual secara real-time saat syuting.
Upie menyebut teknologi tersebut dipelajari dari luar negeri dan kemudian dikembangkan di Indonesia. Seluruh proses produksi, termasuk pengolahan teknologi, dilakukan oleh tenaga kreatif dalam negeri.
“Semua teknologi yang kita adaptasi dan olah menjadi karya ini adalah 100 persen karya anak Indonesia,” ujarnya.
Film ini merupakan kolaborasi antara Guava Film, DossGuava Studio, dan PFN.
Tantangan Akting dan Pendekatan Visual
Pemeran utama Messi Gusti mengungkapkan tantangan selama proses syuting, terutama karena penggunaan teknologi XR yang mengharuskannya berakting tanpa kehadiran fisik robot.
“Saat berdialog dengan robot, tidak ada wujudnya. Jadi saya harus benar-benar membayangkan mereka ada di depan saya. Imajinasi harus kuat,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan kostum astronot yang tebal dan berat juga menjadi kendala dalam eksplorasi gerak selama syuting.
Sorotan Profesi Kreatif Baru
Film ini juga menghadirkan pendekatan baru dengan melibatkan body actor dan voice actor secara terpisah untuk karakter robot.
Pengisi suara karakter robot Batik, Bimo Kusumo Yudo, menyebut hal ini sebagai langkah penting dalam membuka peluang bagi profesi kreatif di industri film nasional.
“Ini menjadi momen baru di Indonesia, bahwa ada profesi lain seperti voice actor dan body actor yang sebenarnya memiliki talenta besar, namun belum banyak diangkat,” katanya.
Sementara itu, Vanya Rivani yang memerankan robot Kimchi menyampaikan pengalaman positif selama proses produksi, yang menurutnya berjalan dengan penuh semangat kolaborasi.
Motivasi Produksi dan Harapan Industri
Produser utama Dendi Reynando menegaskan bahwa film ini lahir dari keprihatinan atas minimnya film anak di Indonesia.
Ia menilai film anak merupakan kebutuhan penting dalam industri perfilman, sekaligus medium untuk membangun imajinasi generasi muda.
“Kami ingin anak-anak Indonesia punya haknya di sinema. Film ini bukan sekadar hiburan, tapi juga memicu mereka untuk bermimpi dan membayangkan masa depan,” ujarnya.
Selain itu, film ini juga diharapkan dapat memperkuat intellectual property (IP) lokal agar mampu bersaing dengan produk luar negeri yang selama ini mendominasi pasar, terutama di industri mainan dan hiburan anak.
Target dan Distribusi
Tim produksi menargetkan jutaan penonton sebagai langkah awal untuk membuka peluang sekuel. Promosi film dilakukan di berbagai kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Semarang, hingga wilayah Sumatera.
Pelangi di Mars dijadwalkan tayang di bioskop dan diharapkan menjadi tonggak baru bagi film anak dan sci-fi Indonesia, sekaligus menghadirkan narasi bahwa anak Indonesia mampu menjadi bagian dari solusi global di masa depan.
(nald)






