- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Para pegiat budaya dan masyarakat Jawa perlu menguatkan nilai-nilai budaya Jawa sebagai identitas nasional. Penguatan nilai-nilai itu penting, khususnya untuk menjaga kondusivitas tahun politik di tengah maraknya informasi hoax dan ujaran kebencian.

Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Budaya Jawa yang digelar oleh Yayasan Kanthil Semarang bekerja sama dengan Padepokan Mitra Kinasih dan radio Mitra FM Purworejo, Rabu (9/1). Sarasehan berlangsung di Joglo Mitra Kinasih Purworejo diikuti seratusan pegiat budaya dan pelaku seni.

“Saat ini bangsa kita sedang demam politik. Penggunaan budaya penting untuk menangkal hoax dan tindakan negative lain yang memicu perpecahan,” kata Pdt Lukas Eko Sukoco Rekso Budoyo, Pemimpin Padepokan Mitra Kinasih yang juga menjadi narasumber Sarasehan.

Menurutnya, salah satu budaya Jawa yang lengkap ada pada wayang. Wayang mengajarkan filosofi hidup, ajaran kejawen, bahasa, tatah, sungging, seni music, seni suara, adat istiadat dan lain sebagainya.

ads

Dalam wayang juga banyak dicontohkan dampak buruk penyebaran. Salah satunya kisah Pandito Durna, seorang ahli agama dan penasihat Prabu Duryudana, terkena hukum karma karena menyebar hoaks. Ia mati di tengah perang Baratayudha akibat perbuatannya.

“Ada teladan dari cerita-cerita wayang. Pelajaran moralnya, siapa menabur hoaks akan kembali pada dirinya sendiri. Wong nandur bakal ngunduh wohing pakarti,” sebutnya.

Lukas Eko menjelaskan, Sarasehan kali ini mengakat tema Kebudayaan Jawa Adalah Jatidiri Nasional. Melalui tema itu masyarakat Purworejo diharapkan dapat menyadari pentingnya budaya Jawa dalam segala lini kehidupan demi kejayaan nasional. Adanya sarasehan diharapkan juga menjadi forum bertukar pikiran dalam menyikapi masalah-masalah dalam penerapan kebudayaan Jawa.

“Kita angkat tema ini supaya ada kesadaran. Supaya kita tidak berlebih-lebihan dalam berpolitik dengan hoaks,” jelasnya.

KRHT Sutejo K Widodo Dwijodiningrat, narasumber dari Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil, mengungkapkan bahwa di era global saat ini banyak muncul unsur universal, tetapi budaya lokal yang memiliki jatidiri dan keunikan masih dibutuhkan. Kebudayaan lokal atau daerah itu justru menjadi penentu majunya kebudayaan nasional.

“Kalau budaya daerah itu kuat, maka kebudayaan nasional juga akan kuat. Kita angkat kebudayaan lokal agar menggelobal. Seperti korea, kebudayaan lokal bisa menasional. Kenapa kita tidak bisa seperti itu?,” ungkapnya.

Sutejo yang juga Dosen Undip Semarang menilai bahwa Kabupaten Purworejo memiliki banyak budaya lokal yang layak menasional. Banyaknya tokoh-tokoh penting nasional yang lahir dari Purworejo diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk mengangkat kebudayaan lokal.

“Jenderal-jenderal banyak dari Purworejo. Semangat apa yang bisa kita angkat dari itu? MAsyarakat harus sadar dan bergerak aktif,” tandasnya.

Sarasehan berlangsung interaktif selama sejak pagi hingga sore. Pada kahir kegiatan dilakukan penyerahan secara simbolik buku tentang Kebudayaan Jawa oleh Prof Dr Soetomo WE MPd kepada Pdt Lukas Eko Sukoco. (Daniel)