
MetroTimes (Surabaya) – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur resmi meluncurkan program PGRI Power Jawa Timur sebagai bagian dari dukungan terhadap Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI). Program ini menargetkan sebanyak 200 ribu guru di Jawa Timur mendapatkan penguatan kompetensi di bidang coding dan AI guna menjawab tantangan transformasi pendidikan di era digital.

Ketua PGRI Jawa Timur periode 2024-2029, Dr. H. Djoko Adi Walujo, ST., MM., DBA., menegaskan bahwa guru tidak boleh tertinggal dalam perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, digitalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan sehingga guru harus mampu memahami dan menguasai berbagai teknologi untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Guru tidak boleh lepas dari persoalan digitalisasi. Guru harus masuk ke ranah tersebut dan mengenal seluk-beluk teknologi sehingga pembelajaran kepada anak-anak menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Karena itu, guru harus dibekali kemampuan yang memadai,” ujarnya usai peluncuran program.
Djoko menjelaskan, PGRI Power merupakan program nasional yang akan dilaksanakan di seluruh Indonesia. Untuk Jawa Timur, PGRI mendapatkan target sebanyak 200 ribu guru yang akan diperkenalkan dan dilatih mengenai coding serta pemanfaatan artificial intelligence dalam proses pembelajaran.
“Melalui program ini guru memiliki power atau kekuatan untuk menguasai teknologi. Kami ingin guru tidak hanya mengenal, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” katanya.
Program tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada 25 Juni 2026 dengan pelaksanaan perdana di SMP Negeri 2 Mojokerto. Sebelum pelaksanaan program, PGRI Jawa Timur telah menggelar kegiatan Training for Trainers (ToT) yang diikuti sekitar 300 calon pelatih guna memperkuat kapasitas para pendamping yang nantinya akan memberikan pelatihan kepada guru di berbagai daerah.
“Kami sudah melakukan penguatan kepada sekitar 300 calon trainer. Mereka akan menjadi ujung tombak dalam memberikan pendampingan kepada para guru,” jelasnya.
Terkait dukungan pemerintah daerah, Djoko menyebut bahwa program ini merupakan inisiatif mandiri PGRI. Namun demikian, program tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong penguasaan coding dan AI oleh tenaga pendidik.
“Ini kegiatan mandiri PGRI dan sejalan dengan keinginan Menteri Pendidikan agar guru menguasai coding. Jika nanti ada dukungan dari pemerintah daerah, tentu akan kami sambut dengan baik,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, penguatan kompetensi guru akan dilakukan secara berkelanjutan melalui metode daring maupun luring. PGRI menyiapkan berbagai program pengayaan dan pengembangan kemampuan guru agar mampu mengikuti perkembangan teknologi pendidikan.
“Penguatan dilakukan secara online melalui enrichment atau pengayaan teknologi, serta enlargement yaitu pengembangan kemampuan menguasai bahan-bahan pengajaran. Semua itu akan berjalan seiring dengan program nasional peningkatan kompetensi guru di bidang artificial intelligence,” terangnya.
Menurut Djoko, target 200 ribu peserta di Jawa Timur merupakan bagian dari target nasional satu juta guru. Bahkan, program ini tidak hanya menyasar guru aktif, tetapi juga akan diperluas kepada calon guru melalui perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi PGRI di Jawa Timur.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman dasar coding, penggunaan berbagai aplikasi berbasis artificial intelligence, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif dan inovatif.
“Guru akan belajar coding sebagai dasar memahami teknologi. Selanjutnya mereka akan dikenalkan dengan berbagai aplikasi AI yang dapat membantu proses pembelajaran dan memudahkan siswa memahami perkembangan teknologi,” ungkapnya.
Djoko juga meminta para orang tua dan wali murid tidak perlu khawatir terhadap penerapan AI dalam pendidikan. Menurutnya, teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa mengubah kurikulum yang berlaku.
“Artificial intelligence digunakan untuk mempermudah pembelajaran. Kurikulumnya tetap sama, tetapi pencarian sumber belajar menjadi lebih mudah dan penyajian materi menjadi lebih menarik. Karena itu, wali murid tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penguasaan teknologi harus tetap diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Guru diharapkan tidak takut terhadap perkembangan teknologi, namun juga tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi hingga mengabaikan aspek humanisasi dalam pendidikan.
“Guru tidak boleh fobia terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh mania terhadap teknologi dan melupakan humanisasi. Ke depan, artificial intelligence akan dibarengi dengan pendekatan deep learning agar guru memiliki pemahaman yang lebih mendalam dalam memberikan pembelajaran,” pungkasnya.
Melalui program PGRI Power, PGRI Jawa Timur berharap lahir guru-guru yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menjadi nahkoda pembelajaran yang inovatif dan berkualitas bagi generasi masa depan.
(nald)





