
MetroTimes (Surabaya) – Pertemuan Ilmiah Respirologi (PIR) 2025 resmi digelar di Bumi Surabaya Hotel pada 4–5 Oktober 2025. Forum ilmiah dua tahunan ini menjadi wadah para dokter spesialis paru dan tenaga medis untuk berbagi pengetahuan, inovasi, serta strategi dalam menangani penyakit-penyakit pernapasan yang semakin kompleks.
Dokter Faradila Nur Ani, Sp.P., salah satu narasumber PIR 2025, menegaskan bahwa ilmu respirologi saat ini berkembang pesat, baik dari sisi penanganan penyakit, teknologi, maupun sistem pelayanan kesehatan. “Kita sebagai tenaga medis harus berinovasi dan berkolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pengabdian, serta hasil pengobatan bagi pasien,” ujarnya.
Menurut dr. Faradila, isu utama yang menjadi sorotan PIR tahun ini adalah kanker paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), dan tuberkulosis (TB) paru. “Kanker paru merupakan kasus terbanyak nomor dua di dunia setelah kanker kandungan, dengan angka kejadian yang juga tinggi di Indonesia. PPOK bahkan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi, termasuk lima besar secara global. Sementara TB paru, menurut WHO, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus terbanyak kedua setelah India,” jelasnya.
PIR 2025 juga membahas update terapi terbaru untuk kanker paru dan PPOK, serta upaya mendukung program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui skrining dini. “Kemenkes mendorong agar deteksi awal dilakukan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Jika ada indikasi TB, tumor, atau PPOK, pasien bisa segera dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL) untuk pemeriksaan dan terapi lebih lanjut,” katanya.
Harapannya, dengan skrining yang lebih masif, angka kematian dan kejadian penyakit pernapasan bisa ditekan. “Kalau kasus bisa terjaring lebih awal, terapi bisa dilakukan lebih cepat, dan hasilnya tentu lebih baik. Selain itu, edukasi kepada masyarakat sehat juga penting agar mereka bisa menjaga kesehatan paru dan terhindar dari risiko penyakit,” imbuh dr. Faradila.
Penyakit paru, lanjutnya, memiliki pola risiko berbeda. PPOK biasanya menyerang usia di atas 40 tahun, kanker paru kini mulai ditemukan juga pada usia muda, sedangkan TB paru paling banyak terjadi di usia produktif. “Ini tantangan bersama, baik di tingkat nasional maupun global. Data di Indonesia selaras dengan tren internasional, sehingga butuh strategi yang terintegrasi,” ujarnya.
Dengan tema “Breathing Beyond Boundaries: Innovations and Collaborating for Respiratory Health”, PIR 2025 diharapkan mampu melahirkan terobosan baru dalam pengembangan ilmu respirologi dan kolaborasi lintas sektor demi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
(nald)




