
Metrotimes, (Purworejo)-Petani di Kabupaten Purworejo mulai diajak untuk menerapkan sistem pertanian modern untuk mengoptimalkan hasil panen. Sistem Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) ini mengharuskan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pada setiap fase.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Purworejo, Bagas Adi Karyanto, didampingi Kepala Bidang Sarana dan Perlindungan Pertanian, Fitria Kurniawati menjelaskan PM-AAS adalah sistem budidaya padi terpadu yang mengadopsi teknologi pertanian presisi dari Delta Arkansas. Sistem ini mengandalkan mekanisasi penuh.
“Mulai dari land leveler atau perata tanah, drum seeder sebagai alat tanam hingga combine harvester untuk pemanenan. PM-AAS ini program terbaru untuk meningkatkan hasil pertanian model tabela atau tanam benih langsung,” ucap Bagas.
Sistem ini digadang-gadang dapat mempersingkat proses penanaman padi karena petani tidak perlu menyemai benih padi untuk ditanam.
Mengawali program tersebut di Purworejo pemerintah daerah bersama Kementerian Pertanian tengah menerapkan program demplot dengan menargetkan 12 hektar sawah sebagai lokasi penanaman.
“Hari ini sudah dimulai untuk lahan setengah hektar di Desa Keponggok Kecamatan Purwodadi,” kata Fitria menambahkan.
Penyuluh Pertanian Lapangan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan RI, wilayah Kecamatan Purwodadi, Purworejo Desty Lina Erfawati menjelaskan PM-AAS adalah sistem budidaya padi modern yang memanfaatkan teknologi, data, mekanisasi dan pengelolaan presisi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi serta keberlanjutan usaha.
“PM-AAS menggabungkan enam aspek utama yakni populasi tinggi, tabela, mekanisasi lengkap, pengelolaan air cerdas, pemupukan spesifik lokasi, pengelolaan organisme perusak tanaman terpadu OPT. Sistem ini memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan sistem semai yang selama ini diterapkan petani,” katanya.
Kelebihan dalam penerapan sistem budidaya modern ini meliputi jumlah rumpun tanaman padi akan lebih banyak dan produktivitas lebih tinggi, tanaman tidak stress karena tidak melalui proses pindah tanam juga hemat waktu dan tenaga karena tidak perlu menyiapkan persemaian, cabut bibit (ndaud) serta tidak ada pindah tanam (transplanting).
“Enam prinsip dalam sistem ini diantaranya tanam rapat dalam baris. Hal ini memungkinkan efisiensi lahan dan hasil maksimal. Kemudian metode PM-AAS dilaksanakan spesifik lokasi, artinya dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan atau agroeskosistem seperti lahan harus datar, rata, dan dapat diatur airnya. Tidak disarankan dilaksanakan di sawah saat musim penghujan,” demikian tutup Desty.(toyib)




