
MetroTimes (Surabaya) – Rektor Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Mohammad Nasih, M.T., Ak., CA menegaskan pentingnya transformasi gagasan akademik menjadi aksi nyata dalam menyelesaikan persoalan bangsa, terutama di bidang kesehatan. Hal ini disampaikannya dalam acara pengukuhan para guru besar UNAIR yang digelar hari ini. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasih juga menyampaikan bahwa saat ini jumlah guru besar di UNAIR telah menembus angka 300-an, dengan sekitar 60 di antaranya berasal dari Fakultas Kedokteran.
“Kami sangat senang dan bangga atas kontribusi pemikiran dari para guru besar. Tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana ide-ide besar itu dieksekusi. Tidak cukup hanya dipikirkan, direnungkan, atau didiskusikan. Harus ada yang menindaklanjuti hingga memberi dampak nyata,” tegas Prof. Nasih.
Ia menyoroti pentingnya peran strategis universitas tidak hanya dalam menghasilkan gagasan, tapi juga mengawalnya hingga tahap implementasi, termasuk mendorong hilirisasi hasil riset ke sektor industri.
“Seringkali kita punya formulasi yang luar biasa, tapi tidak ditindaklanjuti. Akhirnya justru pihak lain seperti pelaku usaha yang mengeksekusi dan merasakan manfaat ekonominya. Tentu ada manfaat sosial, tapi nilai tambah lainnya diraih orang lain. Itu yang tidak boleh terjadi,” ujarnya.
Prof. Nasih juga mengingatkan agar UNAIR tetap konsisten dalam menjalankan skema dan arah strategis yang telah ditetapkan. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan program agar tidak berhenti di tengah jalan.
“UNAIR itu punya skema multi-yes. Artinya, kalau sudah memulai, harus tuntas. Jangan berpindah ke topik-topik baru sebelum menyelesaikan yang sudah dimulai. Ini penting agar program-program unggulan kita benar-benar berdampak,” jelasnya.
Dalam konteks kontribusi terhadap isu nasional, Prof. Nasih menyoroti bahwa perguruan tinggi harus hadir secara nyata, bukan sekadar menjadi pengkritik.
“Kita jangan hanya berteriak menolak ini itu, misalnya soal kekurangan dokter atau distribusi tenaga kesehatan. Kalau kita tahu masalahnya, ayo kita ikut menyelesaikan. Jangan hanya menyalahkan pihak lain yang justru berusaha mengisi kekosongan itu,” katanya.
Ia mencontohkan kasus vaksin TBC sebagai salah satu hal yang perlu menjadi perhatian perguruan tinggi.
“Kalau kita tidak menyiapkan riset dan uji klinis di dalam negeri, lalu siapa? Kalau ingin mandiri, ya harus siap dari sekarang. Kita tidak bisa hanya jadi penonton,” pungkasnya.
Pernyataan Rektor UNAIR ini sekaligus menjadi ajakan kepada seluruh civitas akademika untuk lebih aktif dan konsisten dalam mewujudkan ide menjadi aksi. Universitas, menurutnya, harus menjadi bagian nyata dari solusi bangsa—bukan sekadar ruang diskusi, tapi juga motor eksekusi dan inovasi.
(nald)




