- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi Sekolah Minggu Buddha Buddhayana Dharmawira Centre (BDC) untuk menanamkan nilai patriotisme, persatuan, toleransi, dan kebersamaan kepada generasi muda.

Melalui berbagai perlombaan yang diikuti sekitar 200 peserta, Sekolah Minggu Buddha BDC bersama Sekolah Minggu Buddha VBR mengajak anak-anak dan generasi muda dari berbagai kelompok usia untuk merayakan kemerdekaan sekaligus memperkuat solidaritas.

Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC, Yeni dan Guru Agama Buddha Sekolah Minggu Buddha BDC, Dwi Wahyuni

Kepala Sekolah Minggu Buddha BDC, Yeni, mengatakan perayaan kemerdekaan tidak sekadar menjadi kegiatan hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter bagi anak-anak. Menurutnya, nilai-nilai patriotisme, religiusitas, persatuan, serta kecintaan terhadap bangsa perlu terus ditanamkan sejak dini.

“Di kesempatan ini kami merayakan Semarak Kemerdekaan dalam Sahaya Dharma. Kami ikut merayakan untuk menanamkan nilai-nilai patriotisme, religius, dan persatuan bangsa,” ujar Yeni.

ads

Ia menambahkan, pendidikan bagi generasi muda harus mampu mendorong anak-anak menjadi pribadi yang mandiri, berprestasi, serta memiliki rasa cinta terhadap Indonesia.

“Kami berharap anak-anak bisa berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, memiliki nilai-nilai kebangsaan, cinta bangsa Indonesia, dan tetap memegang patriotisme dalam diri mereka,” katanya.

Menurut Yeni, tantangan generasi muda ke depan semakin kompleks, terutama karena mereka tumbuh di tengah keberagaman masyarakat dan perkembangan teknologi digital. Karena itu, anak-anak perlu memahami bahwa Indonesia merupakan bangsa yang hidup dalam keberagaman dan tetap dipersatukan oleh nilai-nilai Pancasila.

“Anak-anak harus lebih mengerti bahwa kita hidup dalam keberagaman, dalam Bhinneka Tunggal Ika. Anak-anak tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral Pancasila,” tuturnya.

Ia menilai pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Peran orang tua juga sangat penting karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan keluarga.

“Kami berharap tetap ada kerja sama antara orang tua dan siswa. Bagaimanapun anak-anak lebih lama di rumah daripada di sekolah. Di sekolah kami berusaha menanamkan nilai-nilai moral positif supaya mereka menjadi pribadi-pribadi yang berpegang teguh pada nilai-nilai luhur,” jelas Yeni.

Dalam lingkungan Sekolah Minggu Buddha BDC, nilai-nilai tersebut juga diajarkan melalui pendidikan agama Buddha, termasuk penerapan Pancasila Buddhis sebagai landasan moral dalam kehidupan sehari-hari.

Dorong Perayaan Kemerdekaan Lintas Enam Agama dan Kepercayaan

Lebih jauh, Yeni berharap pemerintah memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar terhadap kegiatan pendidikan dan pembinaan generasi muda di lingkungan umat Buddha.

Namun, ia juga menyampaikan gagasan agar pemerintah dapat menghadirkan kegiatan perayaan kemerdekaan yang mempertemukan anak-anak dan generasi muda dari enam agama dan kepercayaan yang diakui dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.

Menurutnya, kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang perjumpaan antargenerasi muda sehingga mereka tidak hanya memahami keberagaman melalui teori, tetapi melihat dan merasakan langsung kehidupan bersama dengan teman-teman yang memiliki latar belakang agama dan kepercayaan berbeda.

“Kami berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih dan dukungan. Kalau memungkinkan, seperti acara kebersamaan dalam wadah enam agama dan kepercayaan, misalnya acara kemerdekaan yang mewadahi anak-anak,” ungkapnya.

Ia menilai kegiatan lintas agama tersebut akan memberikan pengalaman penting bagi anak-anak dalam membangun toleransi.

“Jadi anak-anak bisa bertemu dengan agama-agama lainnya. Mereka bisa melihat sendiri, ‘Oh, ini ya keberagaman itu yang sebenarnya.’ Dan inilah yang mempersatukan mereka dalam Bhinneka Tunggal Ika,” kata Yeni.

Gagasan tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan kebangsaan yang konkret. Anak-anak dapat belajar menghargai perbedaan sekaligus memahami bahwa perbedaan agama dan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dan membangun persatuan.

200 Peserta Ikuti Lomba Kemerdekaan

Guru Agama Buddha Sekolah Minggu Buddha BDC, Dwi Wahyuni, menjelaskan kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI diikuti sekitar 200 peserta. Mereka berasal dari Sekolah Minggu Buddha Wihara BDC dan Sekolah Minggu Buddha VBR.

Peserta berasal dari berbagai jenjang usia, mulai dari PAUD dan TK hingga SMA serta mahasiswa. Mereka terbagi dalam sejumlah kelompok, yakni kelas Meta, Karuna, Mudita, UPK, dan Wiria.

“Dari Sekolah Minggu Buddha BDC kami melakukan lomba untuk memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Selain memperingati, kami memiliki misi untuk memperkuat persatuan dan kekompakan siswa-siswa Sekolah Minggu Buddha BDC,” ujar Dwi.

Sejumlah perlombaan digelar dengan menyesuaikan kelompok usia peserta. Di antaranya lomba makan donat bagi kelompok anak-anak dan tarik tambang bagi kelompok lainnya.

Dwi mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menjadi media bagi anak-anak untuk belajar bekerja sama, menjaga kekompakan, serta menumbuhkan rasa persatuan.

“Harapannya dalam pendidikan semakin maju dalam Dhamma dan kami bisa mempraktikkan ajaran Buddha itu dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Belajar Sportivitas dan Kerja Sama

Siswa kelas Wiria Sekolah Minggu Buddha BDC, Brian Yang, Sirus Rajawali Everin, Kefka Meloa, dan Dwi Wahyuni Guru Agama Buddha Sekolah Minggu Buddha BDC

 

Sementara itu, siswa kelas Wiria Sekolah Minggu Buddha BDC, Brian Yang, mengaku memperoleh banyak pengalaman dari kegiatan perayaan kemerdekaan tersebut.

Menurutnya, perlombaan menjadi sarana belajar tentang kebersamaan, semangat membela negara, kerja sama, serta sportivitas.

“Dari event 17-an ini saya belajar cukup banyak, mulai dari kebersamaan, kemudian rasa semangat untuk membela negara. Kami juga belajar bekerja sama dengan teman-teman,” ujar Brian.

Ia mencontohkan lomba tarik tambang yang membutuhkan kekompakan seluruh anggota tim.

“Tarik tambang itu membutuhkan kekompakan dan kerja sama antarteman. Ini mengajarkan kita untuk selalu bersemangat dan bekerja sama satu dengan yang lainnya serta mempertahankan sportivitas dalam kompetisi,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Sirus Rajawali Everin, siswa kelas Wiria. Ia mengatakan kegiatan tersebut mempertemukan siswa dari dua wilayah, yakni Surabaya Barat dan Surabaya Timur.

“Dari lomba-lomba ini kita belajar untuk sportif dan bekerja sama. Kita juga menjalin hubungan dan relasi dengan kawan-kawan dari Surabaya Barat,” ungkap Sirus.

Sementara itu, Kefka Meloa, siswa kelas Wiria Sekolah Minggu Buddha BDC, menilai keberagaman latar belakang peserta justru menjadi kekuatan dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, peserta, panitia, maupun pihak yang terlibat dalam kegiatan memiliki latar belakang yang berbeda. Namun, seluruhnya dapat bersatu dalam satu kegiatan untuk memperingati kemerdekaan Indonesia.

“Hal yang paling saya rasakan adalah kebersamaan. Latar belakang setiap orang berbeda, baik yang ikut lomba, menjadi panitia, maupun yang terlibat dalam organisasi. Namun, kami di sini diingatkan bahwa kita harus bersatu,” kata Kefka.

Semangat tersebut menjadi pesan utama perayaan kemerdekaan di Sekolah Minggu Buddha BDC. Bagi mereka, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun generasi muda yang mampu hidup berdampingan, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Usulan untuk menghadirkan perayaan kemerdekaan lintas enam agama dan kepercayaan pun diharapkan dapat menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperluas ruang perjumpaan generasi muda. Dengan semakin sering bertemu dan bekerja sama, anak-anak diharapkan tumbuh dengan pemahaman bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersama-sama membangun Indonesia.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!