- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur menjadi fokus utama di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Sinergi lintas sektor dan langkah adaptif dinilai krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan yang telah tercapai.

Kinerja ekonomi Jawa Timur sepanjang 2025 tercatat tetap solid dengan pertumbuhan sebesar 5,34 persen (year-on-year). Capaian ini menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi ke depan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka forum “Jatim Talk” di Surabaya.

“Diperlukan sinergi dan adaptasi untuk menghadapi tantangan sekaligus menangkap peluang di tengah kondisi global saat ini,” ujarnya.

ads

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan konsulat negara sahabat, pelaku usaha, sektor perbankan, serta akademisi.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah menekankan peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Peran tersebut diwujudkan melalui penguatan kerja sama perdagangan dan investasi antar daerah, percepatan hilirisasi komoditas unggulan, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.

Selain itu, Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas pasokan. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan distribusi, hilirisasi produk olahan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda tersebut, Bank Indonesia Jawa Timur memperkuat kolaborasi strategis melalui penyelenggaraan “Jatim Talk” bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur. Forum ini mengangkat tema penguatan daya saing melalui hilirisasi komoditas unggulan dan iklim investasi berkelanjutan.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur yang diterbitkan secara triwulanan, sekaligus rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai instansi, antara lain Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perindustrian, perbankan nasional, serta akademisi dari Universitas Airlangga.

Hasil diskusi menunjukkan bahwa kondisi global saat ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional dan regional. Meski demikian, peluang pertumbuhan tetap terbuka melalui pengembangan sumber ekonomi baru, penguatan iklim investasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta dukungan kebijakan yang tepat sasaran.

Pada akhir acara, Bank Indonesia Jawa Timur menyerahkan buku Laporan Perekonomian Provinsi kepada Gubernur Jawa Timur. Dokumen tersebut memuat sejumlah rekomendasi kebijakan, di antaranya penguatan distribusi barang, percepatan investasi untuk hilirisasi industri, peningkatan ketahanan pangan, pengembangan sektor pariwisata dan UMKM, optimalisasi pendapatan daerah, percepatan digitalisasi fiskal, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Rekomendasi tersebut disusun berbasis kajian riset sebagai bagian dari rangkaian East Java Economic Forum 2026, yang diharapkan dapat menjadi acuan strategis dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur secara berkelanjutan.

(nald)