- iklan atas berita -

 

 

MetroTimes (Surabaya) – SMP YPPI 1 Surabaya terus mengembangkan program pembelajaran di luar kelas atau outing class agar tidak sekadar menjadi kegiatan rekreasi, tetapi mampu memberikan pengalaman belajar yang dapat diterapkan siswa di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

ads

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si., mengatakan, sekolah mulai mengarahkan program outing class agar selaras dengan visi dan program unggulan sekolah, terutama sebagai sekolah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, setiap kegiatan outing class harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas dan memberikan sesuatu yang dapat diterapkan kembali di sekolah.

“Kalau sekolah ini programnya apa, mau arahnya ke mana, maka tujuan outing class harus kita sesuaikan. Karena kita sekolah Adiwiyata yang berbasis lingkungan, berarti outing class-nya juga harus kita arahkan ke yang berbasis lingkungan,” ujar Titris.

Salah satu bentuk penerapan konsep tersebut dilakukan melalui kunjungan pembelajaran ke lingkungan PT Petrokimia Gresik. Di lokasi tersebut, siswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai pembibitan, jenis tanaman, proses penanaman hingga penggunaan pupuk.

Titris menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah mencari lokasi belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga memungkinkan siswa membawa pengalaman tersebut untuk diterapkan di sekolah.

“Kita coba cari tempat tujuan belajar yang bisa mewujudkan program itu. Paling tidak membantu. Salah satunya di Petrokimia. Di sana ada departemen riset, bagaimana pembibitan, bagaimana jenis-jenis tanaman, dan bagaimana penerapannya,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, siswa juga mendapat kesempatan melakukan praktik menanam, di antaranya jagung menggunakan media polibag. Bagi sekolah, praktik sederhana tersebut justru menjadi pengalaman penting karena menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam dapat dilakukan meski dengan lahan terbatas.

Titris menilai, pengalaman tersebut relevan dengan kondisi sekolah dan lingkungan perkotaan. Siswa tidak harus memiliki lahan luas untuk mulai menanam.

“Anak-anak menanam jagung di polibag. Ternyata bisa dan itu dapat diterapkan di sekolah. Anak-anak mencoba. Kita tidak mungkin meminta mereka berhasil seperti petani, tetapi ada hal yang bisa dipelajari,” katanya.

Ia berharap pembelajaran tersebut juga membangun kesadaran bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak berkontribusi terhadap lingkungan.

“Harapan kami, kita semua, tidak hanya siswa, bisa memanfaatkan lahan sekecil apa pun. Yang kita punya bisa memberikan sumbangsih terhadap lingkungan. Ibaratnya menyumbang paru-paru bumi, meskipun dalam skala yang paling kecil. Tidak ada alasan tidak ada lahan, karena di polibag pun bisa,” tuturnya.

Konsep outing class SMP YPPI 1 Surabaya juga dirancang berkelanjutan antarkelas. Untuk siswa kelas IX, sekolah merencanakan kegiatan bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), khususnya untuk melihat bagaimana hasil budidaya tanaman dapat dikembangkan dan diolah lebih lanjut melalui laboratorium riset bidang kimia.

Sementara untuk kelas VII, sekolah sebelumnya merencanakan pembelajaran budidaya tanaman pisang di Sidoarjo. Namun, karena adanya agenda lain di lokasi tersebut, rencana itu akan dialihkan ke Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo). Materi tersebut tetap diarahkan agar memiliki keterkaitan dengan proses pembelajaran sebelumnya.

“Jadi tidak hanya asal melihat pabrik atau datang ke suatu tempat. Harus ada hal baru yang bisa diterapkan di sekolah,” tegas Titris.

Sejalan dengan Visi Lingkungan dan Entrepreneur

Wakil Kepala SMP YPPI 1 Surabaya Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras), Nanang Ananto Budiono, S.Pd.

Wakil Kepala SMP YPPI 1 Surabaya Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras), Nanang Ananto Budiono, S.Pd., menambahkan, pemilihan Petrokimia sebagai lokasi outing class juga mempertimbangkan kesesuaian program perusahaan dengan visi dan misi sekolah.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan Petrokimia, khususnya terkait lingkungan dan pertanian, memiliki keterkaitan dengan kegiatan yang sudah dikembangkan di SMP YPPI 1 Surabaya.

“Kita memilih Petro karena kegiatan dan programnya untuk masyarakat sejalan dengan pemikiran atau visi sekolah, terutama dalam hal lingkungan dan entrepreneurship,” kata Nanang.

Ia menjelaskan, sekolah juga telah mengembangkan kegiatan pembuatan pupuk cair dan kompos yang kemudian dimanfaatkan untuk tanaman di lingkungan sekolah.

Berbagai tanaman dibudidayakan, mulai dari sayuran seperti gedi, sawi, bayam hingga tanaman bunga. Karena itu, kunjungan ke Petrokimia menjadi kesempatan bagi siswa untuk melihat secara langsung bagaimana proses pengelolaan tanaman dan pemanfaatan pupuk dilakukan.

“Di sini kita juga membuat pupuk cair dan kompos. Kita terapkan pada tanaman dan lingkungan sekolah. Jadi kita melihat proses perkembangannya seperti apa,” ujarnya.

Nanang menambahkan, terdapat perbedaan antara orientasi kegiatan pertanian di perusahaan dengan kegiatan di sekolah. Jika di perusahaan hasil panen dapat diarahkan kepada masyarakat atau memiliki nilai ekonomi, sekolah lebih menitikberatkan pada proses pembelajaran.

Meski demikian, aspek kewirausahaan tetap dikenalkan kepada siswa agar mereka memahami bahwa sebuah kreativitas atau karya dapat memiliki nilai dan manfaat di kemudian hari.

“Karena kita lembaga pendidikan, fokus kita bukan pada materi. Tetapi siswa setidaknya tahu bahwa proses kreativitas entrepreneur itu ada ujungnya. Karya yang mereka buat melalui kegiatan sekolah nantinya bisa menunjang kelanjutan hidup mereka,” jelasnya.

Sekolah juga berharap kerja sama pembelajaran tersebut dapat berkembang, khususnya dalam pengadaan bibit tanaman.

“Kami berharap hubungan kerja sama ini semakin baik, terutama dalam pengadaan pembibitan. Setidaknya Petrokimia memiliki bibit-bibit unggul dan pilihan yang bisa kami manfaatkan,” katanya.

Siswa Antusias Belajar Langsung

Antusiasme siswa terlihat selama mengikuti kegiatan outing class. Selain memperoleh penjelasan, mereka juga mendapatkan lembar kerja yang harus dikerjakan berdasarkan materi dan aktivitas yang dilakukan di lokasi.

Nanang mengatakan, siswa mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, bahkan sebagian terlihat belum ingin segera meninggalkan lokasi.

“Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, mereka dibekali LKS dan mengerjakan sesuai dengan kegiatan. Antusias mereka sangat tinggi, bahkan seolah-olah tidak mau pulang,” ungkapnya.

Salah seorang siswa kelas 8B SMP YPPI 1 Surabaya, Reska Ditya Pratama, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

Ia belajar mengenai jenis-jenis pupuk, cara membuat pupuk, proses menanam hingga bagaimana tanaman dipanen.

“Dari outing class kemarin saya belajar tentang cara membuat pupuk, jenis-jenis pupuk dan contoh pupuk yang ada di Petrokimia. Kami juga belajar tentang buah-buahan, bagaimana cara menanam, memanen, dan berapa lama sampai panen,” katanya.

Reska mengaku tertarik menerapkan pengetahuan tersebut di sekolah maupun di rumah. Salah satu tanaman yang ingin ia praktikkan adalah jagung manis.

Menurutnya, jagung manis relatif mudah ditanam dan memiliki waktu panen yang cukup singkat.

“Saya ingin mempraktikkan jagung manis karena penanamannya cukup mudah dan durasi sampai panen sekitar dua bulan,” ujarnya.

Ia berharap pengetahuan mengenai pupuk dan budidaya tanaman yang diperoleh dari outing class dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

Sementara itu, siswa kelas 8A, Kelvin, mengatakan kegiatan tersebut menambah pengetahuannya mengenai cara menanam jagung, golden melon, serta berbagai tanaman lainnya.

“Senang banget. Jadi menambah pengetahuan tentang tanaman di luar pelajaran sekolah,” katanya.

Kelvin mengaku pengalaman tersebut membuatnya tertarik mencoba menanam di rumah maupun di lingkungan sekolah dengan menggunakan teknik dan pupuk yang telah dipelajari.

Ia juga mengapresiasi cara penyampaian materi selama kegiatan karena dinilai mudah dipahami.

“Cara penyampaiannya enak dan cepat dipahami. Jelas juga,” ujarnya.

Kelvin yang sebelumnya pernah mengikuti outing class pada tahun sebelumnya berharap kegiatan serupa dapat semakin beragam. Untuk kegiatan mendatang, ia bahkan mengusulkan kunjungan ke planetarium agar siswa memperoleh pengalaman belajar mengenai luar angkasa dan berbagai jenis planet.

Bagi SMP YPPI 1 Surabaya, rangkaian outing class tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah pembelajaran luar kelas menjadi pengalaman yang memiliki kesinambungan dengan program sekolah. Pembelajaran lingkungan, praktik bercocok tanam, pengenalan pupuk, kewirausahaan hingga pengembangan hasil budidaya diarahkan agar siswa tidak hanya melihat, tetapi juga memahami dan mencoba menerapkannya.

Dengan pendekatan tersebut, sekolah berharap outing class mampu menjadi ruang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman nyata sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, serta kemandirian sejak dini.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!