- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — SMP YPPI 1 Surabaya terus mendorong peserta didiknya untuk memiliki wawasan global melalui penguatan kemampuan bahasa asing dan pengenalan budaya internasional. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Korea bersama Surabaya Korean Center.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kelas pakar yang secara rutin menghadirkan narasumber dari berbagai profesi dan bidang keahlian. Kali ini, sekolah memilih Korea sebagai tema kegiatan karena tingginya minat siswa terhadap bahasa dan budaya Negeri Ginseng, khususnya melalui ekstrakurikuler Bahasa Korea yang telah berjalan selama beberapa tahun.

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si.,

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi kunjungan atau pembelajaran tambahan, tetapi juga diharapkan mampu membuka wawasan siswa mengenai berbagai peluang pendidikan dan karier di masa depan.

“Tujuan kunjungan ini untuk membuka wawasan sehingga anak-anak juga memiliki cita-cita dan arah tujuan. Kami mempunyai program kelas pakar dengan profesi yang berbeda-beda. Untuk kegiatan kali ini kami menghadirkan native speaker Korea bersama beberapa penerjemah dari Indonesia,” ujar Titris.

ads

Menurutnya, Korea dipilih karena ekstrakurikuler Bahasa Korea di SMP YPPI 1 Surabaya mendapat respons positif dari siswa. Bahkan, minat tersebut cenderung meningkat dari tahun ke tahun, salah satunya dipengaruhi oleh semakin mudahnya anak-anak mengakses berbagai informasi mengenai Korea melalui media sosial, drama, musik, maupun konten digital.

Namun, pihak sekolah ingin memastikan ketertarikan siswa terhadap Korea tidak berhenti pada budaya populer semata.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal Korea sebagai drama Korea, boyband atau girlband. Ada banyak hal positif yang bisa dipelajari, termasuk budaya, bahasa, pendidikan, etos kerja dan berbagai peluang yang ada di sana,” jelasnya.

SMP YPPI 1 Surabaya saat ini memiliki sekitar 103 siswa, dengan sekitar 20 persen atau kurang lebih 21 siswa mengikuti ekstrakurikuler Bahasa Korea.

Selain Bahasa Korea sebagai ekstrakurikuler, sekolah juga memberikan pembelajaran Bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran wajib. Jika sebelumnya pembelajaran Bahasa Mandarin berlangsung dua jam setiap pekan, pada tahun ajaran ini porsinya ditingkatkan menjadi lima jam per minggu.

Titris menambahkan, pihaknya menggandeng Surabaya Korean Center untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih langsung kepada siswa. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pengenalan Hangul, bahasa Korea, serta budaya Korea melalui permainan dan tayangan video.

“Harapannya wawasan dan pengetahuan anak-anak semakin luas. Siapa tahu ada yang bercita-cita melanjutkan studi atau bekerja di Korea. Setidak-tidaknya mereka sudah memiliki pengetahuan awal,” katanya.

Sekolah juga membuka peluang untuk mengembangkan kerja sama lanjutan dengan Surabaya Korean Center. Menurut Titris, bentuk kerja sama tersebut masih akan melihat respons siswa terhadap kegiatan perdana ini.

“Kalau dampaknya positif dan anak-anak merespons dengan baik, mungkin kegiatan Bahasa Korea ke depan bisa dikembangkan, misalnya satu bulan sekali. Tetapi untuk saat ini kami masih melihat hasil kegiatan pertama dan belum sampai pada tahap MOU,” ujarnya.

Tidak hanya pengetahuan, sekolah juga berharap siswa ekstrakurikuler Bahasa Korea memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka di luar lingkungan sekolah.

Titris mengungkapkan, kemampuan bahasa asing membutuhkan wadah agar dapat berkembang dan memberikan pengalaman bagi siswa untuk tampil percaya diri. Karena itu, pihaknya berharap Surabaya Korean Center dapat memberikan informasi apabila terdapat kegiatan atau pertunjukan yang memungkinkan siswa SMP YPPI 1 Surabaya ikut berpartisipasi.

“Percuma ada kegiatan ekstrakurikuler kalau anak-anak tidak diberi wadah untuk tampil. Dengan adanya kesempatan tampil di luar, keterampilan yang mereka latih di sekolah bisa terlihat. Mereka juga akan semakin percaya diri dan bisa membawa nama baik sekolah,” tuturnya.

Belajar Hangul sebagai Dasar Bahasa Korea

Guru Bahasa Korea SMP YPPI 1 Surabaya, Gizka

Guru Bahasa Korea SMP YPPI 1 Surabaya, Gizka, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan agenda perdana yang secara khusus mengangkat pembelajaran Hangul dan budaya Korea.

Menurutnya, pengenalan Hangul menjadi bagian penting karena aksara tersebut merupakan dasar bagi siapa pun yang ingin mempelajari bahasa Korea.

“Kalau sebelum belajar bahasa Korea memang harus tahu Hangul terlebih dahulu. Anak-anak harus tahu cara membaca dan menulisnya, baru kemudian belajar hal-hal lainnya,” kata Gizka.

Dalam kegiatan tersebut, SMP YPPI 1 Surabaya bekerja sama dengan Surabaya Korean Center dengan menghadirkan sejumlah pengajar, termasuk native speaker Korea, di antaranya Kim Ayun, Jeon Won Joo, dan Hyun Jiya.

Gizka mengatakan, salah satu alasan kegiatan tersebut digelar adalah tingginya ketertarikan siswa terhadap K-pop dan budaya Korea.

“Banyak anak yang suka K-pop. Dari situ saya ingin mengenalkan bahwa Korea bukan hanya tentang K-pop. Korea juga memiliki Hangul, budaya dan berbagai hal lain yang bisa dipelajari,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mempelajari bahasa Korea secara lebih serius.

“Harapannya anak-anak semakin tertarik dengan Hangul dan bahasa Korea, menambah wawasan serta memiliki bekal ketika suatu saat ada kesempatan atau tantangan yang mengharuskan mereka menggunakan bahasa Korea,” katanya.

Gizka juga menilai Hangul relatif dapat dipelajari oleh pelajar pemula. Meskipun bentuk penulisannya terlihat rumit, menurutnya siswa dapat mulai memahami dasar-dasarnya dalam waktu relatif singkat jika belajar secara konsisten.

Native Speaker Korea Kenalkan Bahasa dan Budaya

Hyun Jiya, guru Bahasa Korea dari Surabaya Korean Center

Sementara itu, Hyun Jiya, guru Bahasa Korea dari Surabaya Korean Center yang merupakan warga Korea dan pernah menempuh pendidikan di Indonesia, mengatakan pihaknya datang ke SMP YPPI 1 Surabaya untuk memperkenalkan Hangul, Bahasa Korea atau Hanguk-eo, sekaligus budaya Korea.

Dalam kegiatan tersebut, para pengajar memberikan pembelajaran dengan pendekatan yang lebih interaktif agar siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis.

“Jadi hari ini kami datang ke sekolah ini untuk mengajarkan tentang Hangul, yaitu huruf Bahasa Korea, sekaligus budaya Korea. Kami ingin memperkenalkan bahasa dan budaya Korea kepada teman-teman di sekolah ini,” kata Jiya.

Ia mengaku terkesan melihat antusiasme siswa SMP YPPI 1 Surabaya. Bahkan, sejumlah siswa telah menunjukkan kemampuan berbahasa Korea melalui penampilan menyanyi dan bercerita menggunakan Bahasa Korea.

“Mereka sangat bersemangat. Saya juga melihat ada siswa yang bernyanyi dalam Bahasa Korea dan ada yang bercerita menggunakan Bahasa Korea. Kemampuan Bahasa Korea mereka sangat baik dan saya sangat terkesan,” ujarnya.

Jiya berharap kegiatan seperti ini dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Menurutnya, Surabaya Korean Center terbuka untuk melakukan kegiatan serupa di sekolah-sekolah lain di Surabaya sebagai bagian dari upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Korea kepada generasi muda.

Lebih jauh, ia juga memperkenalkan peluang pendidikan di Korea kepada siswa. Salah satunya melalui Global Korea Scholarship (GKS), program beasiswa pemerintah Korea yang dapat menjadi salah satu pilihan bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di Korea.

“Kalau mereka sudah mulai belajar Bahasa Korea dari sekarang, ketika SMA atau kuliah nanti mungkin bisa mencoba mendaftar beasiswa GKS. Bukan hanya biaya kuliah, tetapi juga ada dukungan biaya hidup, transportasi dan kebutuhan lainnya,” jelas Jiya.

Menurutnya, kemampuan bahasa asing dapat membuka perspektif dan kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda, termasuk peluang melanjutkan pendidikan maupun bekerja di luar negeri.

Ia juga mengajak siswa untuk melihat Korea tidak hanya dari sisi hiburan dan budaya populer, tetapi memahami kehidupan, pendidikan, bahasa serta nilai-nilai positif yang ada di dalamnya.

“Belajar matematika atau Bahasa Indonesia tentu penting. Tetapi kalau memiliki waktu dan minat terhadap budaya dan bahasa lain, saya sangat merekomendasikan untuk belajar sejak sekarang. Dengan begitu perspektif menjadi lebih luas dan kesempatan juga semakin banyak, misalnya untuk kuliah di luar negeri atau mendapatkan peluang pekerjaan,” ungkapnya.

Jiya sendiri memiliki pengalaman cukup panjang dengan Indonesia. Sebelum berada di Surabaya, ia pernah tinggal di Bandung dan Yogyakarta. Ia juga pernah mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia di Korea, kemudian mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk belajar Bahasa Indonesia selama satu tahun di Bandung sebelum melanjutkan pendidikan S2 di Yogyakarta.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat pertukaran bahasa dan budaya sebagai jembatan penting untuk memperluas wawasan generasi muda.

Melalui kegiatan pengenalan Bahasa dan Budaya Korea ini, SMP YPPI 1 Surabaya berharap para siswa tidak hanya memiliki keterampilan akademik, tetapi juga keberanian untuk mengenal dunia yang lebih luas. Kemampuan bahasa asing diharapkan menjadi bekal tambahan bagi siswa dalam menentukan cita-cita, melanjutkan pendidikan, maupun menghadapi peluang global di masa mendatang.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!