
MetroTimes (Surabaya) – SMP YPPI 1 Surabaya menampilkan berbagai hasil karya inovatif siswa melalui kegiatan Gelar Karya Kokurikuler, yang bertepatan dengan pembagian rapor sisipan semester. Kegiatan ini menjadi ajang bagi siswa menunjukkan hasil pembelajaran kontekstual lintas mata pelajaran melalui pendekatan inquiry kolaboratif.

Kepala Sekolah SMP YPPI 1 Surabaya, Titris Hariyanti Utami, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata penerapan tiga jenis pembelajaran: intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
“Kalau intrakurikuler terlihat dari nilai rapor, maka kokurikuler ini menunjukkan keterampilan dan nilai-nilai yang kami tanamkan kepada siswa. Proyek kokurikuler ini dirancang lintas mata pelajaran dengan pendekatan inquiry kolaboratif, sehingga siswa bisa belajar secara kontekstual dan aplikatif,” jelasnya.
Titris menambahkan, tema gelar karya tahun ini disesuaikan dengan visi dan misi sekolah, yaitu membentuk lulusan yang berkarakter baik, peduli lingkungan, dan berjiwa kewirausahaan. Tiga nilai utama ini diterapkan pada masing-masing jenjang kelas dengan proyek berbeda.
Kelas VII: Kewirausahaan Lewat “The Gedi Entrepreneur”
Untuk kelas VII, proyek difokuskan pada core kewirausahaan. Siswa diajak berinovasi melalui program unggulan Youth Entrepreneur Class, dengan mengolah sumber daya alam yang ada di lingkungan sekolah.
Salah satu produk unggulan adalah minuman kesehatan “G-FIT” (Gedi Fit), hasil olahan daun gedi yang dipadukan dengan buah mengkudu dari greenhouse sekolah.
“Selama ini buah mengkudu di sekolah terbuang percuma, padahal punya banyak manfaat. Setelah beberapa kali percobaan, kami berhasil menciptakan minuman sehat ‘G-FIT’ dari daun gedi dan mengkudu. Produk ini bahkan sudah kami daftarkan ke Kemenkumham,” ujar Titris.
Selain minuman sehat, siswa juga menciptakan produk makanan kekinian seperti egg roll keju gedi (Eggroll Cheesy Gedi) dan berbagai olahan pangan lain dari bahan alami yang ada di sekolah.
Kelas VIII: Karakter dan Kreativitas Melalui Lagu dan Film
Untuk kelas VIII, tema yang diangkat adalah karakter, dengan kolaborasi lintas mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Seni Musik, Seni Rupa, dan Bimbingan Konseling (BP).
Siswa diminta menciptakan lagu bertema nilai-nilai karakter seperti responsibility, respect, caring, dan obedience. Lirik ditulis dalam pelajaran Bahasa Indonesia, musik dikembangkan di pelajaran Seni Musik, sementara cover CD dan poster dibuat dalam pelajaran Seni Rupa.
Guru seni musik yang telah mengikuti pelatihan coding juga membimbing siswa menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu aransemen musik. Lagu-lagu ini kemudian divisualisasikan dalam bentuk film pendek, lengkap dengan naskah dan proses penyuntingan di pelajaran TIK.
“Kami ingin anak-anak belajar kolaborasi dan komunikasi. Dari membuat lirik, lagu, hingga video, mereka belajar teamwork dan tanggung jawab,” jelas Titris.
Kelas IX: Peduli Lingkungan Lewat Inovasi Pupuk Cair dari Air Beras
Untuk kelas IX, fokus proyek adalah pendidikan lingkungan (My Environment). Siswa belajar memanfaatkan limbah dan sumber daya alam sekitar untuk menghasilkan produk ramah lingkungan seperti kompos padat dan pupuk cair organik (POC) dari air cucian beras.
Salah satu kelompok siswa kelas IX membuat inovasi POC alami yang digunakan untuk menyuburkan tanaman hidroponik di lingkungan sekolah.
Salah satu siswa, Olivian dari kelas 9B, menjelaskan proses pembuatannya:
“Pupuk cair ini kita buat dari bahan dasar air beras. Bahan-bahannya ada air beras, gula, dan cairan M4 sebagai bioaktifator. Air beras dicampur dengan gula, lalu ditambahkan dua sendok M4, kemudian difermentasi selama lima hari. Setiap hari botolnya dibuka sedikit supaya gas keluar,” ungkapnya.
Megumi dari kelas 9B menambahkan bahwa hasil fermentasi ini sangat bermanfaat bagi tanaman.
“POC ini membuat tanaman lebih cepat tumbuh, lebih subur, dan sehat. Kalau tanaman cuma dikasih air saja, itu seperti hanya minum. Tapi kalau pakai POC, tanamannya juga mendapat gizi,” ujarnya.
Sementara itu, siswa dari kelas 9A menyampaikan bahwa proyek ini berangkat dari kondisi nyata di sekolah yang memiliki banyak tanaman hidroponik.
“Sekolah kami punya kebun hidroponik, seperti bayam, sawi, dan pokcoy. Jadi kami buat POC ini juga untuk membantu merawat tanaman di sana,” katanya.
Para siswa berharap hasil inovasi mereka bisa bermanfaat lebih luas.
“Harapannya semoga hidroponik dan lingkungan di sekolah bisa tumbuh lebih sehat, dan semua orang bisa mencoba membuat POC ini sendiri di rumah,” tutup Olivian.
Selain pupuk cair, siswa juga membuat pupuk kompos padat dari daun-daunan kering serta mengolah ikan lele hasil budidaya menjadi makanan seperti cilok lele. Semua kegiatan ini menjadi bentuk nyata pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan.
Sekolah sebagai Sumber Belajar Nyata
Kepala Sekolah Titris Hariyanti menegaskan, seluruh kegiatan ini mencerminkan filosofi bahwa sekolah harus menjadi sumber belajar yang nyata.
“Sekolah ini harus menjadi sumber daya semuanya. Baik sumber daya alam maupun manusianya, semua bisa dikembangkan untuk pembelajaran. Anak-anak belajar bukan hanya teori, tapi juga praktik yang bisa diterapkan dalam kehidupan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa proyek-proyek kokurikuler seperti ini menjadi sarana menumbuhkan delapan profil pelajar Pancasila, di antaranya kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan gotong royong.
“Kewirausahaan tidak selalu berarti jualan, tapi bagaimana anak-anak kreatif, tangguh, dan mampu menciptakan solusi. Dari hal sederhana pun bisa bernilai,” ujarnya menutup.
(nald)








