
MetroTimes (Surabaya) – Polemik yang melibatkan organisasi kemasyarakatan (ormas) MADAS terus menuai perhatian publik. Sorotan kini mengarah pada fakta bahwa Ketua MADAS diketahui berstatus sebagai dosen aktif di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, sebuah perguruan tinggi yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kebangsaan, intelektualitas, dan harmoni sosial.
Dalam forum Apel Siaga Arek Suroboyo, sejumlah tokoh masyarakat Surabaya menyampaikan keprihatinan mendalam atas sikap dan pernyataan Ketua MADAS yang dinilai memperkeruh suasana, memicu kegaduhan publik, serta berpotensi menimbulkan konflik horizontal di Kota Surabaya.
Tokoh masyarakat Surabaya, drg. David, menegaskan bahwa posisi sebagai dosen seharusnya menjadi teladan dalam menjaga etika, nalar akademik, dan keteduhan sosial, bukan justru tampil di ruang publik dengan narasi yang dinilai provokatif.
“Yang menjadi keprihatinan kami bukan hanya soal ormasnya, tapi karena yang bersangkutan adalah dosen. Seorang pendidik seharusnya mengedepankan klarifikasi, dialog, dan sikap ksatria, bukan memperbesar konflik,” tegas drg. David.
Ia juga menilai bahwa tindakan Ketua MADAS secara tidak langsung telah menyeret nama baik Unitomo ke dalam pusaran polemik sosial dan politik yang seharusnya berada di luar ranah akademik.
Desakan Sikap Tegas dari Pihak Kampus
Para tokoh Arek Suroboyo mendesak Rektorat Universitas Dr. Soetomo untuk mengambil sikap tegas dan jelas guna menjaga marwah institusi pendidikan. Kampus, menurut mereka, tidak boleh terkesan membiarkan dosennya terlibat aktif dalam aktivitas ormas yang menimbulkan kegaduhan dan berimplikasi luas terhadap ketertiban masyarakat.
“Kampus adalah ruang intelektual, bukan ruang konflik. Jangan sampai institusi pendidikan justru menjadi korban dari manuver pribadi dosennya,” ujar salah satu perwakilan Arek Suroboyo.
Desakan ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap Unitomo agar tetap berdiri di atas nilai akademik, netralitas, dan persatuan bangsa.
Polemik yang melibatkan Ketua Ormas MADAS yang juga diketahui berstatus sebagai dosen aktif Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) terus menuai reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat Surabaya.j Sejumlah tokoh Arek Suroboyo menyampaikan sikap tegas dan terbuka demi menjaga kondusivitas kota serta marwah institusi pendidikan.
Ketua Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur, Heru Satriyo, menilai keterlibatan aktif seorang dosen dalam konflik ormas yang menimbulkan kegaduhan publik merupakan persoalan serius, bukan sekadar urusan pribadi.
“Yang bersangkutan ini bukan warga biasa. Dia dosen, pendidik, intelektual. Ketika tampil di ruang publik dengan narasi yang memecah belah dan berpotensi konflik horizontal, itu sudah menyentuh ranah etika dan kepentingan publik,” tegas Heru.
Heru juga mengingatkan agar institusi pendidikan tidak terseret dalam konflik sosial akibat manuver personal.
“Kampus harus dijaga marwahnya. Jangan sampai Unitomo ikut tercoreng hanya karena perilaku satu orang,” ujarnya.
Tokoh Arek Suroboyo Bergerak (ASB), Rudi Gaul, menyatakan bahwa Surabaya tidak membutuhkan figur publik yang justru memperkeruh suasana dengan membawa konflik ke ranah hukum dan isu identitas.
“Kalau mau berorganisasi, silakan. Tapi jangan jadikan status dosen dan kampus sebagai tameng ormas. Itu tidak etis dan mencederai dunia pendidikan,” kata Rudi.
Ia menilai langkah Ketua MADAS justru telah menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu dan berpotensi memancing emosi publik Surabaya.
“Arek Suroboyo ini sabar, tapi kalau kotanya dirusak martabatnya, pasti bergerak,” tambahnya.
Sementara itu, Purnama, Pimpinan Gerakan Forstrastis sekaligus Pasukan Hitam Jagabaya, menegaskan bahwa seorang dosen memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penyejuk di tengah masyarakat.
“Dosen itu panutan. Harusnya mengedepankan logika, dialog, dan solusi. Bukan malah tampil sebagai pemantik konflik dan adu kekuatan,” ujar Purnama.
Ia juga menegaskan bahwa Surabaya berdiri di atas nilai kebangsaan, bukan kesukuan.
“Kami di Surabaya tidak bicara suku. Kami bicara kota, ketertiban, dan persatuan. Kalau ada ormas yang membawa-bawa identitas dan membuat gaduh, itu bukan representasi Surabaya,” tegasnya.
Desakan Sikap Tegas Kampus
Ketiga tokoh tersebut sepakat mendesak Rektorat Universitas Dr. Soetomo untuk bersikap tegas dan objektif demi menjaga integritas institusi akademik. Kampus diminta tidak diam dan tidak membiarkan nama baiknya terseret dalam konflik sosial yang berkepanjangan.
“Kampus harus berdiri di atas nilai akademik dan kebangsaan. Jangan abu-abu,” tegas Heru Satriyo.
Penegasan Sikap Arek Suroboyo
Melalui pernyataan bersama ini, tokoh-tokoh Arek Suroboyo menegaskan bahwa mereka tidak memusuhi kelompok tertentu, namun menolak keras segala bentuk kegaduhan, politisasi ormas, dan tindakan yang berpotensi memecah persatuan warga Surabaya.
Surabaya adalah Kota Pahlawan. Akademisi seharusnya menjadi penjaga nalar dan persatuan, bukan bagian dari konflik.
Sejumlah tokoh menilai, langkah Ketua MADAS yang membawa persoalan parkir dan penertiban ke ranah ormas, bahkan hingga pelaporan hukum terhadap Wakil Wali Kota Surabaya, telah memperpanjang konflik yang sejatinya dapat diselesaikan secara dialogis dan institusional.
Lebih jauh, narasi yang berkembang di publik dinilai telah menciptakan stigma dan kegaduhan, termasuk menyeret isu identitas yang tidak relevan dengan karakter Surabaya sebagai kota multikultural dan Kota Pahlawan.
“Surabaya tidak dibangun dengan semangat kesukuan. Yang ada hanya semangat kebangsaan dan persatuan,” tegas pernyataan sikap Arek Suroboyo.
Harapan Penyelesaian Bermartabat
Melalui rilis ini, tokoh-tokoh masyarakat Surabaya berharap Ketua MADAS dapat melakukan introspeksi dan mengambil langkah yang menyejukkan, termasuk menghentikan narasi yang memperuncing konflik serta tidak lagi menyeret institusi akademik tempatnya mengajar ke dalam polemik publik.
Masyarakat Surabaya juga berharap pihak kampus Unitomo dapat menjalankan fungsi etik dan moralnya demi menjaga kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan tinggi.
Surabaya adalah kota pahlawan, bukan kota kegaduhan. Akademisi seharusnya menjadi penyejuk, bukan pemantik konflik.
(nald)




