
Metro Times (Purworejo) Pak Kisut (65) warga Desa Tawang Sari Rt 10/02 Kecamatan Kaligesing Purworejo, tinggal bertiga dengan Ibu dan Adik perempuannya di gubuk tua dan sudah reot diatas tanah milik orang tuanya sekitar 4×5 meter, persegi, dengan dinding hanya dari pakonan kayu papan bekas yang sudah kropos karena dimakan usia.
Pak Kisut memang memiliki dua anak, namun keduanya sudah berkeluarga dan mereka juga hidupnya hanya pas-pasan, perjuangan Pak Kisut sebagai buruh srabutan dengan hasil yang tidak menentu, tidak mbuatnya menyerah dan patah semangat, dia tetap tegar dan kuat demi menafkai Ibu dan adiknya yang selama ini setia menemaninya di gubuk itu.
Walaupun ekonomi telah menghimpit mereka, namun masih bisa bertahan hidup hanya dengan memakan ubi kayu yang ditanami Pak Kisut dikebun dan galengan sawah milik tetangga, seperti ada pribahasa, “tiada rotan akarpun jadi” mungkin pribahasa ini paling tetap kita artikan dalam kehidup Pak Kisut.
Wakila (90) ibu Pak Kisut, selain uasianya yang sudah tua dan rapuh, Wakila juga sering sakit-sakitan. Sementara adiknya Kamisah (50), diketahui secara kejiwaan kurang sehat layaknya orang hidup normal pada umumnya. Sedangkan Istri pak Kisut sudah lama meninggal.
Seperti penuturan Saring Sutrisno (55) pengurus kelompok kadus Desa Tawang Sari Kaligesing, saat dikonfirmasi metrotimes. (25/6/18) pagi.
Menurut Saring , Pak Kisut bekerja sebagai buruh srabutan di Desanya dengan penghasilan yang tidak pasti, itupun kalau ada orang yang membutuhkan tenaganya.
Lebih lanjut Saring katakan, akibat hasilnya yang tidak menentu, berdampak pada ekonomi keluarganya, kebutuhan harian keluaga tersebut yang serba kekurangan dan sangat memprihatinkan. Setiap hari mereka hanya hidup dari ubi kayu, sesekali makan nasi kalau pas dapat bantuan dari pemerintah. Kata Saring.
“Saya sangat prihatin sekali dengan kondisi keluarga Pak Kisut, sementara ini Pak kisut tinggal bersama Ibu dan Adiknya, Ibunya dalam kondisi sakit, sementara adiknya secara ilmu kijiwaan kurang sehat. Kalau Ibunya sementara dibawa ketempat anaknya, Ungkap Saring.
Kami berharap kepada pemerinta lebih memperhatikan lagi dan memberikan bantuan pada Pak Kisut dan keluarganya. Dan semoga ada masyarakat diluar sana bisa mengulurkan tangan mereka dengan bersedekah agar hidup Pak Kisut ini bisa layak.
Sementara, salah satu tokoh masyarakat setempat, Pak Haji Marno, yang kebetulan sedang mengunjungi Pak Kisut namun Pak Kisut tidak berada di rumah mengungkapkan, melihat kondisi Pak Kisut dan keluarganya tentu sangat memprihatinkan sekali bagi kita semua, Ungkap Hj Marno.
“Saya sebagai tetangga hanya bisa bantu alakadarnya saja, selain itu juga tetangga sekitar Pak Kisut juga tentunya tidak diam diri dengan kondisi seperti ini, untuk kebutuhan makan sehari-harinya hanya dari singkong kayak gini, kan kasihan sekali,” kata Hj Marno sambil menunjukkan singkong yang ada di amben dekat luweng Pak Kisut.
Hj Marno berharap kepada pemerintah setempat, agar Pak Kisut dan keluarganya diberi bantuan, baik dalam bentuk materi maupun sembako, syukur-syukur rumahnya diperbaikin yang lebih baik, dengan demikian mereka bisa hidup layak seperti masyarakat pada umumnya, Harap Hj Marno.
“Kalau untuk bantuan dari pemerintah seperti apa selama ini kita tidak tahu. Cuman dari pengakuan anak mantunya, ada bantuan dari pemerintah dalam bentuk beras, lain dari itu belum ada, selain bantuan dari pemerintah yang kita mintakan, saya juga berharap ada donatur yang bisa buatkan rumah yang baru, yang lebih kuat dan pantas bagi Pak Kisut dan saudaranya,” Jelas Hj Marno. (Daniel)





