- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Peluncuran novel MetaPanji karya budayawan, agamawan, kreator, pengusaha, pendiri Minilemon Studio sekaligus Indonesian Heritage Museum, Reno Halsamer, mendapat apresiasi dari kalangan akademisi maupun pegiat sastra. Karya fiksi sejarah yang mengangkat kembali kejayaan Cerita Panji dalam balutan modern itu dinilai menjadi pendekatan baru untuk mengenalkan budaya Nusantara kepada generasi muda.

Dalam peluncurannya, Reno Halsamer didampingi pegiat Budaya Panji Henri Nurcahyo serta editor novel Tri Nawangsih, S.Pd. (Shenawangtri). Ketiganya memiliki visi yang sama, yakni menjadikan warisan budaya Indonesia sebagai inspirasi pengembangan industri kreatif sekaligus memperluas literasi budaya di kalangan anak muda.

Dr Puji Karyanto, S.S., M.Hum
Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Peneliti di Pusat Studi Kebudayaan Nusantara Universitas Airlangga

Dari perspektif akademisi, Dr. Puji Karyanto, S.S., M.Hum, pengajar Fakultas Ilmu Budaya sekaligus peneliti di Pusat Studi Kebudayaan Nusantara Universitas Airlangga, menilai kehadiran MetaPanji menjadi fenomena menarik dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer.

Menurutnya, MetaPanji memang bukan karya yang berorientasi sebagai sastra fine art, namun justru memiliki posisi penting karena menawarkan alternatif bacaan yang lebih dekat dengan selera generasi muda.
“MetaPanji merupakan salah satu karya yang menarik dicermati di tengah khazanah sastra Indonesia kontemporer yang semakin beragam. Kehadirannya memperkaya pilihan literasi, khususnya bagi anak-anak muda,” ujarnya.

ads

Ia juga menyambut positif peluang kolaborasi antara MetaPanji dengan dunia kampus. Menurutnya, perguruan tinggi selama ini identik dengan pendekatan sastra yang cenderung mainstream, sementara MetaPanji hadir dengan warna yang lebih ringan dan mudah diterima generasi baru.

“Kalau dianalogikan dalam musik, MetaPanji lebih easy listening bagi generasi sekarang. Kolaborasi dengan kampus akan menjadi dialog yang produktif bagi perkembangan sastra dan kebudayaan ke depan,” katanya.

Dr. Puji berharap MetaPanji dapat menjadi katalisator yang menjawab kebutuhan literasi generasi muda tanpa meninggalkan akar budaya bangsa.
“MetaPanji diharapkan mampu menginspirasi anak-anak muda untuk kembali mengenali dan menggali kekayaan budaya Nusantara yang selama ini kurang akrab karena Cerita Panji lebih banyak direproduksi dalam arus utama sastra fine art. Dengan pendekatan baru ini, budaya Panji menjadi lebih dekat dengan kehidupan generasi muda,” jelasnya.

Lely Yuana, Novelis

Sementara itu, novelis sekaligus seniman Lely Yuana menilai MetaPanji membawa angin segar bagi dunia literasi Indonesia. Menurutnya, novel tersebut menghadirkan perpaduan sejarah, fantasi, petualangan, romansa, dan aksi heroik yang sesuai dengan karakter pembaca masa kini.

“Kehadiran MetaPanji memberikan warna baru dalam dunia literasi. Generasi muda menyukai kisah epik yang penuh pertarungan dan romansa tanpa terasa kaku. Saya melihat MetaPanji berpotensi membangun kembali kejayaan novel petualangan yang pernah populer pada era 1990-an, tetapi dengan nuansa ‘anime’ khas Indonesia,” ungkapnya.

Ia menilai kekuatan utama MetaPanji terletak pada keberhasilannya mengemas Cerita Panji yang berasal dari manuskrip abad ke-13 menjadi kisah fantasi bergaya modern layaknya permainan digital, sehingga lebih relevan dengan karakter Generasi Z.

“Justru di situlah daya tariknya. Akar sejarah bangsa tetap dipertahankan, tetapi dikemas sesuai kebutuhan zaman. Pendekatan ini membuat anak muda tertarik kembali mengenal sejarah dan budaya Indonesia,” ujarnya.

Menurut Lely, MetaPanji juga memiliki potensi besar dalam membangun kembali jati diri bangsa melalui jalur literasi.

“Novel ini lahir dari rasa cinta terhadap budaya Nusantara. Substansi Cerita Panji tetap dijaga, tetapi penyajiannya disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan generasi,” katanya.

Ia berharap pemerintah memberikan dukungan terhadap pengembangan MetaPanji yang direncanakan akan diperkenalkan hingga ke Jepang sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

“Semoga pemerintah mendukung langkah MetaPanji yang akan dibawa ke Jepang. Ini menjadi harapan baru agar karya sastra Indonesia semakin dikenal di tingkat internasional,” tuturnya.

Selain dukungan pemerintah, Lely juga berharap kalangan akademisi membuka ruang kolaborasi agar MetaPanji dapat menjadi pelengkap literasi kebudayaan kontemporer di lingkungan pendidikan.

“Kampus diharapkan menyambut baik kehadiran MetaPanji sebagai bagian dari literasi budaya yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kolaborasi akademisi, budaya Nusantara dapat terus hidup dan berkembang melalui pendekatan kreatif yang lebih dekat dengan generasi muda,” pungkasnya.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!