
MetroTimes (Surabaya) – Budayawan, agamawan, kreator, pengusaha, pendiri Minilemon Studio sekaligus Indonesian Heritage Museum, Reno Halsamer, resmi memperkenalkan novel MetaPanji, sebuah karya fiksi sejarah yang mengangkat kembali kejayaan Cerita Panji dalam kemasan modern agar lebih dekat dengan generasi muda. Peluncuran novel ini juga menghadirkan pegiat Budaya Panji Henri Nurcahyo serta editor novel Tri Nawangsih, S.Pd. (Shenawangtri), yang memiliki visi sama untuk menjadikan budaya Nusantara sebagai inspirasi industri kreatif Indonesia.

Reno Halsamer menjelaskan bahwa MetaPanji merupakan hasil riset yang telah ia lakukan selama lebih dari lima tahun. Selama proses tersebut, ia melihat Cerita Panji memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan menjadi karya kreatif yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Menurutnya, Cerita Panji merupakan salah satu mahakarya sastra Nusantara yang lahir pada masa pemerintahan Raja Airlangga sekitar abad ke-11. Saat itu, seorang pujangga berkeinginan menghadirkan cerita asli Nusantara sebagai alternatif dari epos India seperti Ramayana dan Mahabharata. Dari situlah lahir Cerita Panji yang kemudian berkembang dalam berbagai versi dan menyebar hingga Semenanjung Melayu pada masa kejayaan Majapahit.
“Ini adalah sebuah mahakarya sastra Indonesia yang usianya sudah lebih dari seribu tahun. Sayangnya, generasi muda saat ini belum banyak mengenalnya. Padahal cerita Panji memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Reno.
Ia mengibaratkan Cerita Panji sebagai berlian yang belum diasah secara maksimal.
“Panji adalah berlian yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengemasnya agar tidak terkesan kuno, tetapi tampil modern sehingga menjadi kebanggaan generasi muda,” katanya.
Sebagai pelaku industri animasi, film dan game, Reno mengaku terinspirasi oleh kesuksesan karya-karya dunia seperti One Piece, Demon Slayer, hingga Lord of the Rings. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan cerita yang tidak kalah menarik apabila dikemas sesuai perkembangan zaman.
Ia menilai Cerita Panji memiliki seluruh unsur yang dibutuhkan sebuah karya populer, mulai dari kisah percintaan, petualangan, peperangan, kepahlawanan hingga nilai-nilai moral yang kuat.
Karena itulah, MetaPanji dikembangkan sebagai fiksi sejarah, yaitu cerita baru yang terinspirasi dari kisah Panji, dipadukan dengan sejarah Nusantara, mitologi Jawa, serta berbagai unsur imajinatif agar lebih mudah diterima generasi muda.
“Target kami bukan sekadar menerbitkan novel. Kami ingin membangun ekosistem industri kreatif berbasis budaya Indonesia. Setelah novel ini, kami menargetkan hadir dalam bentuk manga di Jepang, kemudian dikembangkan menjadi film, animasi, hingga video game,” jelas Reno.
Menurutnya, literasi harus mampu melahirkan industri kreatif yang dapat membawa budaya Indonesia dikenal dunia.

Sementara itu, Henri Nurcahyo, penulis sekaligus pegiat Budaya Panji, menilai MetaPanji menjadi terobosan baru dalam mengenalkan sejarah Panji kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan dunia mereka.
Menurut Henri, novel tersebut menggunakan pendekatan yang dekat dengan dunia game sehingga mampu menarik minat pembaca muda untuk mengenal sejarah tanpa merasa digurui.
“MetaPanji menggunakan pendekatan yang menjadi dunia anak-anak muda sekarang. Dengan cara seperti ini mereka akan tertarik mempelajari sejarah secara alami,” ujarnya.
Henri mengakui bahwa saat ini sebagian besar generasi muda memang lebih mengenal budaya populer dari luar negeri dibandingkan budaya bangsa sendiri.
“Mayoritas memang lebih berorientasi kepada budaya luar, meskipun tentu tidak semuanya demikian,” katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar kepada para pegiat budaya yang berupaya melestarikan warisan Nusantara melalui karya-karya kreatif.
“Program seperti ini perlu diapresiasi, didukung dan diberi penghargaan agar semakin banyak karya budaya Indonesia yang lahir,” ungkapnya.
Henri berharap MetaPanji menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal Cerita Panji sekaligus memperluas pengenalannya hingga tingkat internasional.

Senada dengan itu, editor MetaPanji Tri Nawangsih, S.Pd. atau Shenawangtri, mengatakan bahwa novel ini diharapkan mampu membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya Nusantara.
Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama proses penyuntingan adalah mengubah konsep yang semula berbentuk skrip game menjadi narasi yang menarik dan mudah dipahami pembaca.
“Beberapa bagian memang berbentuk seperti skrip game. Tantangannya adalah mengubah adegan-adegan peperangan menjadi narasi yang runut sekaligus mampu membangun imajinasi pembaca,” jelasnya.
Menurut Tri, unsur sejarah yang disisipkan dalam MetaPanji diharapkan dapat mengingatkan generasi muda pada kejayaan Nusantara jauh sebelum lahirnya Kerajaan Majapahit.
Dengan demikian, mereka tidak hanya menikmati cerita petualangan, tetapi juga mengenal akar budaya bangsa sendiri.
“Diharapkan generasi muda memiliki figur hero lokal dan tidak selalu berkiblat kepada tokoh-tokoh dari luar negeri. Perjalanan hidup Panji yang penuh perjuangan sangat layak menjadi inspirasi bagi mereka,” katanya.
Tri juga berharap MetaPanji dapat berkembang menjadi karya lintas media yang mampu mengangkat nama Indonesia di panggung internasional.
“Harapan kami, MetaPanji diterima masyarakat, berkembang menjadi film, animasi, game, hingga Go Internasional. Semoga ini menjadi awal lahirnya lebih banyak karya animasi berbasis budaya dari berbagai daerah di Indonesia,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara budayawan, penulis, dan pelaku industri kreatif tersebut, MetaPanji diharapkan tidak hanya menjadi sebuah novel, tetapi juga menjadi gerakan pelestarian budaya yang mampu menjembatani sejarah Nusantara dengan dunia kreatif modern. Dengan pendekatan yang dekat dengan generasi muda, karya ini diharapkan melahirkan kebanggaan baru terhadap budaya Indonesia sekaligus membuka jalan bagi Cerita Panji untuk dikenal lebih luas di tingkat global.
(nald)




