
MetroTimes (Surabaya) — Keberanian untuk mencoba berbagai hal baru mengantarkan Afra pada pengalaman yang beragam selama menempuh pendidikan di Universitas Airlangga (UNAIR). Berawal dari pribadi yang tidak banyak mengikuti kegiatan saat SMA, Afra justru menemukan banyak ruang untuk berkembang ketika memasuki dunia perkuliahan. Dari organisasi, kepanitiaan, dunia komunikasi, kewirausahaan, hingga pengalaman akademik di dalam dan luar negeri, berbagai kesempatan tersebut turut mengantarkannya meraih predikat Wisudawan Magister Terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR).

Memasuki dunia perkuliahan, Afra mulai memberanikan diri mencoba hal-hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. Ia aktif dalam organisasi BEM FEB UNAIR, terlibat dalam berbagai kepanitiaan, serta mengambil peran sebagai MC dan moderator dalam berbagai kegiatan.
Ia juga memanfaatkan berbagai kesempatan pengembangan diri, mulai dari menjadi Duta Favorit FEB UNAIR, mengikuti program MBKM Studi Independen, hingga memperoleh kesempatan mengikuti Student Outbound ke University of Malaya, Malaysia.
Bagi Afra, keaktifannya selama kuliah bukan sesuatu yang telah direncanakan sejak awal. Semuanya berawal dari kemauan untuk mencoba dan menjadikan setiap kesempatan sebagai ruang belajar.
“Awalnya saya hanya ingin mencoba hal-hal baru. Tapi ternyata, semakin banyak saya mencoba, semakin banyak juga hal yang saya pelajari tentang diri saya sendiri. Dari sana saya sadar bahwa kita tidak pernah tahu kemampuan kita sebelum benar-benar memberinya kesempatan,” ungkap Afra.
Mengembangkan Diri, Termasuk melalui Dunia Usaha
Keberanian mencoba kemudian membawanya pada pengalaman yang semakin beragam. Selain aktif di lingkungan FEB UNAIR, Afra dipercaya menjadi Duta Favorit Pariwisata Jawa Timur. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, membangun kepercayaan diri, sekaligus mengenal lebih jauh potensi pariwisata di Jawa Timur.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Afra juga mulai membangun pengalaman di bidang kewirausahaan melalui @Syai u maa, sebuah brand fashion muslim yang ia bangun selama masa perkuliahan.
Menjalankan bisnis tersebut memberikan pengalaman langsung bagi Afra untuk mengenal proses pengelolaan usaha. Ia belajar mengambil keputusan, menghadapi berbagai tantangan sebagai pelaku bisnis, sekaligus memahami pentingnya tanggung jawab dan konsistensi dalam menjalankan sebuah usaha.
Bagi Afra, pengalaman berwirausaha menjadi salah satu ruang belajar yang melengkapi berbagai pengalaman lainnya selama kuliah. Ia tidak hanya belajar dari teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk merasakan secara langsung bagaimana sebuah keputusan harus diambil dan dipertanggungjawabkan.
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Afra tetap menjaga fokus pada bidang akademik. Ia mengambil kesempatan mengikuti Program Fast Track S1-S2, sehingga dapat melanjutkan pendidikan magister tanpa jeda panjang setelah menyelesaikan studi sarjana.
Program tersebut menjadi tantangan tersendiri karena Afra harus menjalani proses akademik dengan ritme yang lebih cepat. Namun, kemampuan mengelola waktu dan berbagai aktivitas membantunya menjalani proses tersebut hingga tuntas.
Hanya satu tahun setelah menyelesaikan studi sarjana, Afra kembali menyelesaikan pendidikan di FEB UNAIR, kali ini sebagai lulusan Magister Sains Ekonomi Islam dengan IPK 3,90. Dalam momentum wisuda ini, ia juga berhasil meraih predikat Wisudawan Magister Terbaik FEB UNAIR.
Menurut Afra, pencapaian tersebut tidak dapat dipisahkan dari berbagai pengalaman yang ia jalani selama masa perkuliahan. Organisasi, kegiatan kepanitiaan, peran sebagai MC dan moderator, pengalaman outbound, hingga menjalankan bisnis memberikan pelajaran yang berbeda dan secara tidak langsung membentuk cara dirinya menjalani proses akademik.
“Kalau saya lihat lagi, semua kegiatan yang saya ikuti ternyata punya perannya masing-masing. Ada yang mengajarkan saya tentang organisasi, ada yang membuat saya lebih berani, dan ada juga yang membuka perspektif baru. Jadi, saya merasa semuanya saling melengkapi dengan proses akademik saya,” tuturnya.
Pencapaian yang Tidak Berjalan Sendiri
Di balik berbagai pengalaman dan pencapaian tersebut, Afra menyadari bahwa perjalanan hingga menjadi Wisudawan Magister Terbaik FEB UNAIR bukan semata-mata pencapaian dirinya sendiri. Dukungan dari Mamah, Papah, dan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan selama menjalani pendidikan.
“Kalau hari ini saya bisa sampai di titik ini, saya merasa ini bukan hanya karena saya. Ada doa orang tua dan keluarga yang ikut membawa saya sampai di sini. Nama saya memang yang ada di ijazah, tapi saya tahu ada banyak dukungan di baliknya,” ujarnya.
Perjalanan tersebut juga mengubah cara Afra memandang sebuah kesempatan. Ia yang dahulu tidak banyak mengikuti kegiatan justru menemukan banyak hal setelah berani keluar dari kebiasaan.
Menurutnya, mahasiswa tidak harus sudah mengetahui sejak awal akan menjadi apa atau memiliki banyak pengalaman untuk dapat berkembang. Proses tersebut dapat dimulai dari keberanian sederhana untuk mencoba.
“Menurut saya, tidak ada salahnya untuk mencoba. Kita mungkin tidak pernah tahu ke mana sebuah kesempatan akan membawa kita. Namun, dengan berani mencoba, kita bisa menemukan kemampuan dan kesempatan emas yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” pungkasnya.
Perjalanan Afra menjadi gambaran bahwa perkembangan diri tidak selalu dimulai dari seseorang yang sejak awal telah aktif dalam berbagai kegiatan. Terkadang, semuanya bermula dari keberanian sederhana untuk mencoba satu hal baru.
Dari satu kesempatan, terbuka kesempatan berikutnya. Pengalaman bertambah, kemampuan berkembang, perspektif meluas, hingga akhirnya mengantarkan seseorang pada pencapaian yang sebelumnya bahkan tidak pernah dibayangkan.
Kisah Afra menunjukkan bahwa proses pendidikan dapat menjadi ruang untuk bertumbuh dalam banyak arah. Berani mencoba, berani belajar, dan berani mengambil kesempatan dapat menjadi langkah awal untuk menemukan potensi diri sekaligus membuka jalan menuju kesempatan-kesempatan berikutnya.
(nald)









