- iklan atas berita -

Metrotimes (Purworejo)-Fenomena El Nino saat ini masih berlangsung di wilayah Indonesia. Hal ini berdampak serius terhadap penurunan pasokan air termasuk pada sektor pertanian. Kendati demikian, petani di wilayah Kabupaten Purworejo masih bisa melakukan aktivitas tanam hingga panen.

Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Purworejo, Dwi Rahmanto mengutarakan sampak El Nino cukup berdampak terhadap pengelolaan sumber daya air di daerah ini, khususnya dalam penyediaan air untuk sektor pertanian. Berkurangnya curah hujan dan panjangnya periode kering menyebabkan ketersediaan air pada beberapa sumber air dan jaringan irigasi mengalami penurunan, sehingga diperlukan pengelolaan dan pembagian air yang lebih cermat.

“Hari tanpa hujan atau HTH di Purworejo tercatat sudah 87 hari sejak bulan Juni. 14 Juni lalu hujan terakhir itu hujan ringan tercatat 15 mili. Dan memang sejak Mei hujan sudah mulai berkurang,” ucap Dwi.

Menurutnya, di Purworejo dampak buruk fenomena alam ini dapat ditekan melalui perencanaan, koordinasi, kedisiplinan pola tanam, serta pengaturan distribusi air. Pemerintah daerah melalui DPUPR bersama instansi terkait secara intensif melakukan sosialisasi pola tanam dan Rencana Tata Tanam (RTT) kepada petani dan P3A.

“Alhamdulillah, berkat kesadaran dan kedisiplinan petani dalam melaksanakan pola tanam yang telah disepakati, pelaksanaan MT I dan MT II tanaman padi di Purworejo dapat berjalan dengan baik dan secara umum tidak mengalami kekeringan yang berarti,” katanya

ads

Hal itu didukung dengan pengaturan giliran air serta dropping atau pengalokasian air ke wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan. Jika ketersediaan air, perencanaan pola tanam, pengaturan distribusi, dan kedisiplinan petani dapat berjalan bersama, keterbatasan air dapat dikelola secara tetap sehingga risiko kekeringan pertanian dapat ditekan.

Sedangkan untuk MT III, dalam pola dan jadwal tanam yang telah disepakati pada prinsipnya diarahkan untuk tanaman palawija, mengingat kondisi ketersediaan air yang semakin terbatas pada musim kemarau. Namun demikian, semangat dan minat petani untuk tetap menanam padi masih cukup tinggi.

“Masa tanam dalam setahun itu ada yakni MT 1 dan 2 petani diarahkan untuk tanam padi. Sedangkan MT 3 karena kondisi kemarau diarahkan ke palawija. Tapi alhamdulillah masih ada juga yang tanam padi, di Purworejo lahan padi pada MT3 ini tercatat ada sekitar 2102 hektar, petani yang lain memilih untuk tanam palawija. Ada jagung, kacang hijau, cabai dan lain sebagainya,” imbuh Dwi.

Ia menyebut keberanian petani menanam padi pada MT III tersebut ditopang oleh berbagai sumber air alternatif, antara lain pemanfaatan sumur air tanah dangkal, Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), serta pompanisasi dari saluran drainase. Sebagian besar upaya tersebut merupakan inisiatif dan swadaya petani dalam memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.

Kondisi ini menunjukkan bahwa petani Purworejo memiliki semangat, kreativitas, dan kemandirian yang tinggi dalam mempertahankan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan sumber daya air.

Menghadapi perubahan iklim dan potensi musim kemarau yang semakin menantang, sebut Dwi, kedepan diperlukan penguatan konservasi sumber daya air, efisiensi jaringan irigasi, pemanfaatan sumber air alternatif, disiplin pola tanam, serta kolaborasi antara pemerintah, petugas pengairan, P3A, dan petani.

“Intinya El Nino memang memberikan tekanan terhadap ketersediaan air, tetapi dengan perencanaan yang baik, pengaturan distribusi air, kedisiplinan petani, dan semangat gotong royong, kita mampu menjaga keberlangsungan pertanian di Kabupaten Purworejo,” demikian katanya.(dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!