- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Dr. Zulkipli, M.Si, menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi pada Januari dan Februari 2024 dipicu oleh kebijakan pemerintah terkait penurunan tarif listrik bagi masyarakat dengan daya 2.200 VA ke bawah. Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap perkembangan harga di berbagai sektor.

“Deflasi dua bulan berturut-turut ini berpengaruh terhadap inflasi tahunan yang tercatat sebesar 0,03 persen hingga Februari 2024,” ujar Zulkipli. Ia menambahkan bahwa apabila kebijakan tarif listrik dikembalikan ke semula, inflasi dapat melonjak dua kali lipat dari penurunan yang terjadi saat ini.

Sejumlah sektor mengalami penurunan harga, di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta sektor perumahan dan listrik. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga meliputi bawang merah, cabai rawit, daging ayam, beras, tomat, kacang panjang, dan cabai merah.

Meski demikian, beras masih mengalami kenaikan harga sebesar 0,35 persen di hampir semua kota pada Februari. “Seharusnya pada Maret nanti harga beras turun karena memasuki musim panen raya. Namun, produksi beras pada 2024 ini mengalami sedikit penurunan,” kata Zulkipli.

ads

BPS memastikan bahwa deflasi yang terjadi tidak perlu dikhawatirkan, karena situasi ekonomi masih dalam kondisi terkendali. “Tidak ada yang perlu ditakuti dari deflasi ini, semua masih aman,” tegasnya.

(nald)