- iklan atas berita -

MetroTimes(Sleman) Dinas Pertanian , Pangan Dan Perikanan Kabupaten Sleman dukung pengunaan Hayati Bioteknologi BIO SAKA khususnya BIO SAKA 2 untuk sektor Peternakan maupun BIO SAKA 1 untuk sektor Pertanian di seluruh wilayah Kabupaten Sleman. Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan, Ir. Siti Rochcayah Dwi Mulyani, MP di kantor Dispertangan dan Perikanan Sleman Kamis (10/7).

Siti yang turut hadir dalam Kegiatan Swarung Ilmiah Dan Bimtek BIO SAKA Sleman bertempat di Joglo Domban, Padukuhan Domban, Mororejo, Tempel Sleman, menerangkan bahwa Kegiatan tersebut merupakan inisiasi dari Gapoktan MOROMAKMUR, Mororejo, Tempel Sleman, yang dihadiri langsung oleh Sang Penemu BIO SAKA yakni Muhammad Ansar dari Blitar, selaku pemilik HAK PATEN  tercatat di Kemenhumkam Nomor 000399067, “Kebetulan Beliau nya ada di Jogya” terangnya.

Para Peserta Gapoktan Seluruh Sleman yang hadir di Kegiatan Swarung Ilmiah Dan Bimtek BIO SAKA Sleman bertempat diJoglo Domban, Padukuhan Domban, Mororejo, Tempel Sleman, iniasi oleh Gapoktan MOROMAKMUR,

Lebih lanjut Siti menerangkan bahwa kegiatan tersebut selain dihadiri Muhammad Ansar sebagai salah satu Narasumber juga dihadiri Sarno selaku penyebar atau distibusi BIO SAKA di wilayah D.I. Yogyakarta yang juga sebagai salah satu Narasumber selain dirinya,  beserta dihadiri oleh para petani Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) seluruh Sleman dengan jumlah peserta kurang lebih 80an.

Siti juga menjelaskan, bahwa penerapan BIO SAKA sejak dulu sudah didampingi oleh Direktorat Jendral (Ditjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian untuk seluruh Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, sehingga telah diterapkan walaupun ada penolakan dari kalangan Akademisi Perguruan Tinggi atas uji teknis dan Ilmiah BIO SAKA. Namun hasil pembuktian dari Petani Organik di Sleman, sudah ada Bukti atas penggunaan BIO SAKA yang menunjukan hasil yang memuaskan, khususnya pada Buliran Padi yang lebih panjang dengan jumlah Bulir yang lebih banyak serta Bobot Bulir Padi yang lebih besar atau berat perbijinya “Biasanya petani menghasilkan 50kg dalam 1 karung dengan BIO SAKA menjadi 54kg dalam 1 karung sehingga ada peningkatan sebesar 4kg”. Terang Siti yang enggan diambil foto dirinya untuk publikasi.

DP3K Kab. Sleman melalui Bidang Tanaman Pangan juga sudah melakukan Pelatihan BIO SAKA kepada semua PPL Pertanian di wilayah Kabupaten Sleman agar di sosialiasikan dan dapat digunakan oleh para Petani di Sleman sejak Tahun 2023 lalu.

ads

Siti juga menegaskan sangat mendukung dan meyakini, jika BIO SAKA 1 maupun BIO SAKA 2 apabila yang dibuat langsung oleh Muh. Ansar selaku Penemu dan Pemilik Paten BIO SAKA, jelas memiliki kualitas yang sudah Terbukti dan Teruji bagi para Petani, dimana penggunaan BIO SAKA akan sangat bermanfaat bagi para Petani bahkan tanpa harus mengeluarkan Biaya untuk Pembelian alias Gratis untuk diaplikasikan oleh seluruh Petani untuk perkembangan dan peningkatan tanaman petani.

Siti berharap dengan adanya Kegiatan dan Pelatihan BIO SAKA hari ini semoga saja para petani dapat mengaplikasikan nya dengan benar sehingga dapat digunakan langsung oleh para petani di seluruh Sleman untuk meningkatkan produksi tanaman nya “Yah semoga teman-teman Petani dapat mengaplikasikannya dengan baik dan benar, toh selain bermanfaat untuk tanaman Pagi juga bisa untuk tanaman Jagung maupun tanaman jenis lainnya dan dapat mengurangi pengunaan pupuk Kimia” Jelasnya.

Sementara Sukamto salah satu Petani asal Domban Mororejo, Tempel yang turut hadir sebagai salah satu perserta mengikuti  Kegiatan Swarung Ilmiah Dan Bimtek BIO SAKA Sleman bertempat di Joglo Domban, Padukuhan Domban, Mororejo, Tempel Sleman Kamis, (10/7) mengaku bahwa Kegiatan tersebut sangat bermanfaat dan akan membuat serta mengaplikasikan Bio Saka pada lahan tanaman nya masing-masing.

BIOSAKA DAN MANFAATNYA

Berdasarkan sumber Dede Rohayana (Penyuluh Pertanian Muda BPSIP Lampung)Referensi :Amarullah, Ernie Tauruslina. Buku Saku Biosaka Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan,  Kementerian Pertanian

Biosaka diambil dari 2 suku kata yaitu Bio yang artinya Hidup dan Saka singkatan dari Selamatkan Alam Kembali Ke Alam, sehingga secara harpiah Biosaka berarti Bahan aktif yang berasal dari mahluk hidup dalam hal ini tanaman guna menyelamatkan alam dengan cara kembali ke alam.

Biosaka bukanlah pupuk atau pestisida melainkan elisitor yaitu senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi pada tanaman menjadi lebih baik, memberikan sinyal positif bagi membran sel pada akar sehingga lebih energik dan produktif. Biosaka adalah salah satu sistem teknologi terbarukan dalam perkembangan dunia pertanian organik modern yang terbentuk sebagai bioteknologi Biosaka merupakan penemuan dari seorang pemuda tani bernama Muhammad Ansar dari Blitar, karyanya tersebut sudah tercatat di Kemenhumkam Nomor 000399067

Manfaat Ramuan Biosaka dapat memperbaiki sel-sel tanaman dan yang terpenting ramuan ini bisa dibuat secara mandiri sehingga dapat menghemat penggunaan pupuk kimia serta meminimalisir serangan hama dan menjadikan lahan yang subur, beberapa pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan Biosaka itu dapat mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia 50 hingga 90% dan meningkatkan jumlah produksi.

Kelebihan Biosaka Ada 13 kelebihan dari ramuan Biosaka yaitu:

  1. Efektifitas kinerja yang baik. Reaksi biosaka dapat dilihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi
  2. Dapat digunakan pada seluruh fase tanaman, mulai dari benih sampai panen
  3. Proses produksinya pun sangat cepat karena tidak menggunakan metode fermentasi yang biasanya memakan waktu paling cepat 1 minggu
  4. Cara penggunaannya mudah dan penggunaan dosis yang sangat sedikit, cukup 40 ml dicampur 15 liter air untuk satu kali penyemprotan untuk B. Mluasan 1.000 m2, atau 400 ml untuk 1 ha tanaman padi. “Penyemprotan dari mulai tanam sampai panen dilakukan sekitar 7 kali aplikasi
  5. Dapat diterapkan pada semua komoditas, termasuk tanaman perkebunan
  6. Dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50-90 persen, sehingga jauh menghemat biaya produksi
  7. Bahan baku Biosaka juga tersedia setiap saat di lingkungan petani, dimana dan kapanpun
  8. Biaya nol rupiah/gratis petani bisa membuat sendir
  9. Tidak ada risiko kerugian bagi petani dan tanaman
  10. tidak beracun
  11. Meminimalisir serangan hama penyakit
  12. Lahan menjadi subur
  13. Umur panen lebih pendek, produktivitas dan produksi lebih bagus. terlepas dari segala kelebihannya Biosaka pun mempunyai kekurangan yaitu tidak dapat diproduksi dengan mesin dan bahan baku yang terus berganti pada saat pembuatan

PEMBUATAN BIOSAKA

Alat

  1. Wadah (baskom/ember)
  2. Gayung
  3. Saringan
  4. Corong
  5. Botol/Jerige

Bahan

  • Rumput-rumputan / daun-daunan yang sehat, sempurna, ukuran daun simetris, tidak terkena hama/penyakit, tidak bolong-bolong, tidak jamuran, ujung daun tidak kusam dan warna daun rata. Ambil agak ke pucuk/daun masih hijau, boleh diambil 2-4 daun dengan batangnya
  • Pilih rumput/daun minimal 5 jenis yang berasal dari sekitar pertanaman, jenis dan warna rumput/daun bebas, tidak harus standar/seragam karena setiap waktu dan tempat bisa berbeda-beda
  • Banyaknya bahan satu genggaman tangan untuk 1 wadah dalam satu kali pembuatan , 5% bahan dan 95% air atau sekitar 2,5 ons bahan rumput / daun dalam 5 liter air.

PROSES PEMBUATAN

  1. Peremasan, dimulai dengan berdoa, dilakukan dengan sabar, ikhlas, sepenuh hati dan fokus.
  2. Campurkan bahan dengan air bersih sebanyak 2-5 liter dalam wadah yang sudah disiapkan (tanpa campuran bahan apa pun)
  3. Lakukan peremesan dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang pangkal bahan. Sekali meremas diikuti sekali memutar/mengaduk air ke kiri. Tangan kanan bergerak memutar air ke kiri (berlawanan arah jarum jam) sambil mengumpulkan bahan yang tercecer sambil tetap meremas
  4. Diremas sampai selesai, tidak berhenti, tidak sampai hancur batangnya, tangan tidak boleh diangkat, tetap tangan di dalam air dan tidak berganti orang
  5. Ketika meremas tidak boleh pakai blender, mesin, atau ditumbuk tetapi harus menggunakan tangan, karena ada interaksi antara tangan dengan rumput sebagai makhluk hidup.
  6. Peremasan dilakukan sampai ramuan homogen (sebenarnya hingga koheren/harmoni), disebut homogen karena menyatu antara air dengan saripati rumput/daun. Untuk mencapai homogen perlu waktu kisaran10-20 menit.
  7. Ciri bahwa biosaka telah homogen yaitu tidak mengendap, tidak timbul gas, tidak ada butiran, bibir permukaan membentuk pola cincin, ramuan biosaka terlihat pekat dan mengkilap, bisa berwarna hijau/biru/ merah sesuai dengan warna rumput/daun yang digunakan. Bagi biosaka homogen yang sempurna bisa disimpan hingga 5 tahun.
  8. Kepekatan ramuan biosaka dapat diukur dengan menggunakan alat Total Disolved Solid (TDS), harga murah dapat dibeli di toko maupun online. Mengukur dengan TDS, pada saat sebelum dan setelah diremas, peningkatannya / deltanya minimal 200 ppm, sebaiknya diatas 300 ppm dan untuk menjadi homogen sempurna di atas 500 ppm. Ukuran ini bukan satu-satunya cara untuk mengukur biosaka homogen, tetapi hanya alat bantu saja. Masih banyak alat ukur yang lain, seperti dilihat visual niteni atau metode kinesologi atau metode lainnya
  9. Selanjutnya ramuan biosaka disaring menggunakan alat saringan dan dimasukan ke dalam botol/jerigen menggunakan corong.
  10. Ramuan biosaka bisa langsung diaplikasikan dan sisanya dapat disimpan. Wadah ramuan biosaka disimpan di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.

 APLIAKSI PENYEMPROTAN

  1. Dosis penyemprotan untuk padi dan jagung 40mL/tanki semprot volume 15 liter.
  2. Untuk aneka kacang dan umbi 30mL/tanki dan hortikultura 10ml/tanki.Untuk satu ha lahan cukup 3-4 tanki sprayer.
  3. Untuk padi dan jagung, aplikasi pertama pada umur 7-10 HST dan dilanjutkan 7 kali semusim dengan interval penyemprotan 10-14 hari dan untuk sayuran seminggu sekali.
  4. Penyemprotan dilakukan dengan nozzle kabut di atas pertanaman, minimal 1 meter di atas tanaman, letak posisi nozzle menghadap ke atas, tidak boleh diulang-ulang
  5. Waktu penyemprotan bisa pagi/siang/sore dan sebaiknya pada sore hari saat ada angin sehingga mudah menyemprot ngabut, perhatikan cuaca dan arah menyemprot mengikuti arah angin.
  6. Penyemprotan cukup dari atas galengan dengan stik diperpanjang hingga 2-3 meter
  7. Aplikasi biosaka efektif bila dibuat dan diaplikasikan di lokasi hamparan insitu dari bahan rumput/daun di sekitar. Jarak efektif aplikasi pada lahan radius maksimal 20 km dan untuk lahan yang sudah berat/tidak sehat harus lebih dekat lagi, tidak efektif biosaka diaplikasikan/dikirim antara wilayah karena terkait pengenalan agroekosistem.JQ