Metro Times (Purworejo) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purworejo, Wasit Diono SSos kembali memberikan klarifikasi tentang beredarnya berita tentang kegiatannya di SMP N 26 Purworejo yang dinilai terlalu keras dalam memberikan teguran kepada guru pengawas yang bertugas mengawasi TUC di sekolah tersebut.

“Jika itu dipandang keliru, tanpa diminta pun pasti saya akan meminta maaf. Bahkan saat itu setelah kejadian kami duduk bertiga, yakni saya, kepala sekolah dan guru pengawas yang bersangkutan sudah saling meminta maaf. Dan sekali lagi saya sampaikan, manusia tentu tidak lepas dari khilaf. Saya kembali meminta maaf,” terang Wasit saat diwawancarai metrotimes di kantornya, Kamis (24/3) malam.

Diakuinya, dirinya memang memiliki karakter yang keras dalam menjalankan tugas. Hal itu semata-mata demi kebaikan bersama agar tugas dan tanggung jawab masing-masing dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Terlebih, tugas dan tanggung jawab dalam dunia pendidikan teramat sangat berat. Butuh kerja keras dan keseriusan semuanya. “Tentu saja sesuai tingkatannya masing-masing,” katanya.

Wasit berharap, polemik atas kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bersama. Baik bagi para tunas bangsa pejuang pendidikan di wilayah Kabupaten Purworejo, terlebih bagi dirinya dalam menahkodai instansi yang bertanggungjawab di bidang pendidikan di Purworejo. Selain itu, dirinya juga berharap agar persoalan ini tidak berkepanjangan.

“Saya juga sampaikan kepada seluruh kepala sekolah di Purworejo melalui WA Grup, agar kejadian ini menjadi pembelajaran bersama sehingga tidak terulang kembali di masa mendatang. Masalah ini tidak perlu diperpanjang apalagi dibesar-besarkan karena yang rugk tidak hanya kita, tapi juga anak-anak didik kita,” tandasnya.

Meluruskan kronologis kejadian, Wasit mengungkapkan bahwa pada hari Senin tanggal 21 Maret lalu dirinya menerima undangan evaluasi kinerja kepala sekolah SMP Negeri 26 Purworejo. Saat itu adalah hari pertama kegiatan TUC.

Sebelum masuk dalam ruang kegiatan evaluasi kinerja kepala sekolah, dirinya menyempatkan diri untuk melakukan monitoring kegiatan TUC di sekolah tersebut. Di salah satu ruangan, ia mendapati ada dua anak yang meletakkan kepalanya di atas meja. “Salah satunya nampaknya memang tidak tidur. Namun yang satunya jelas-jelas tertidur. Wong saya yang membangunkannya. Dalam kesempatan tersebut petugas pengawas juga turut mendampingi saya,” terangnya.

“Lalu kemudian saya tanya, apakah ia sakit atau kenapa kok sampai tertidur. Siswa tersebut menjawab tidak. Saya juga tanya, apakah sudah selesai mengerjakan tugas ujiannya. Dia menjawab belum. Kemudian melalui petugas pengawas saya meminta agar cuci muka dan melanjutkan mengerjakan TUC,” tandasnya.

Setelah itu, ia mengaku melanjutkan kegiatan menuju ke ruang evaluasi kinerja kepala sekolah. Saat itu ia juga tidak mengeluarkan statemen apa-apa di hadapan para siswa. “Sesampai di ruang evaluasi kinerja, saya meminta kepala sekolah untuk memanggil petugas pengawas. Saya memang memberikan teguran keras kepada pengawas. Karena karakter saya memang seperti itu. Yang saya tahu dalam ruangan tersebut tidak ada siswa. Hanya kepala sekolah, komite sekolah dan beberapa guru. Karena ruangannya juga sempit dan di tengah sudah ada tumpukan berkas penilaian, jadi tidak terlalu banyak orang di sana,” terangnya.

Dan setelah itu, ia mengaku sudah duduk bertiga untuk saling minta maaf dan klarifikasi bahwa semua ini dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab baik dari dirinya sebagai kepala dinas untuk memberikan pembinaan kepada para guru, juga tanggung jawab seorang guru kepada murid agar lebih serius memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat. “Saya memiliki kepentingan untuk meluruskan kronologi tersebut agar tidak muncul interpretasi yang macam-macam atau bahkan negatif terhadap Dindikbud Purworejo terkait kabar yang beredar luas atas kejadian di SMP N 26 Purworejo,” pungkasnya. (dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini