- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Konferensi Internasional Konferensi Regional Akuntansi (KRA) XIII Tahun 2026 resmi digelar di Universitas Kristen Petra Surabaya, Selasa, 1 September 2026. Mengusung tema “Redefining Sustainability: Integrating ESG, Innovation, and Impact in the Era of Global Transition, Wani Rek!!!”, konferensi ini menjadi ruang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pemangku kepentingan untuk membahas perkembangan profesi akuntansi di tengah perubahan global.

KRA XIII 2026 diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI KAPd) bekerja sama dengan School of Business and Management (SBM) Universitas Kristen Petra serta IAI Wilayah Jawa Timur. Konferensi berlangsung selama dua hari, 1–2 September 2026, di Petra Performance Hall, Universitas Kristen Petra.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional dengan pembahasan yang menitikberatkan pada keberlanjutan, environmental, social and governance (ESG), inovasi, artificial intelligence (AI), tata kelola, penguatan profesi akuntansi, serta dampak riset bagi dunia usaha dan masyarakat.

Rektor Petra: Akuntan dan Akademisi Harus Berani Berinovasi dan Memberikan Dampak

ads
Rektor Universitas Kristen Petra, Prof. Dr. (H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng.

Rektor Universitas Kristen Petra, Prof. Dr. (H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya KRA XIII 2026 di Universitas Kristen Petra.

Menurutnya, penyelenggaraan konferensi tersebut memiliki arti penting bagi Petra, terlebih pada tahun 2026 Universitas Kristen Petra memasuki usia ke-65. Petra didirikan pada 22 September 1961 dan akan memperingati hari jadinya pada September ini.

“Atas nama sivitas akademika Universitas Kristen Petra, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu undangan, pembicara, peserta yang hadir dari berbagai perguruan tinggi nasional maupun internasional,” ujarnya.

Ia menyebut kerja sama antara SBM Universitas Kristen Petra dengan IAI KAPd, khususnya IAI Wilayah Jawa Timur, menjadi sebuah kehormatan sekaligus kesempatan untuk menyelenggarakan agenda ilmiah yang memiliki relevansi kuat terhadap perkembangan dunia akuntansi.

Rolly menilai tema KRA XIII sangat strategis karena mengajak akademisi dan praktisi untuk merumuskan kembali makna keberlanjutan di tengah era transisi global.

Menariknya, tema konferensi turut menggunakan ungkapan khas Jawa Timur, “Wani Rek”, yang menurutnya merepresentasikan keberanian masyarakat Jawa Timur untuk bergerak, berinovasi dan menghadapi tantangan.

“Jawa Timur terkenal sebagai orang-orang yang berani. Kita mengenal Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Keberanian inilah yang memberikan semangat bagi kita di Jawa Timur,” katanya.

Menurut Rolly, semangat tersebut relevan dengan tantangan dunia akuntansi saat ini. Perkembangan AI, kebutuhan tata kelola siber, serta tuntutan integrasi ESG membuat peran akuntan dan akademisi tidak lagi sebatas pelaporan keuangan maupun menghasilkan jurnal ilmiah.

Akuntan dan akademisi, lanjutnya, harus mampu menjadi bagian dari upaya memperkuat integritas, ketahanan ekonomi dan pembangunan jangka panjang.

“Semangat khas Jawa Timur, Wani Rek, hendaknya menjadi dorongan moral bagi kita semua untuk berani berinovasi, berani melakukan riset berstandar tinggi, dan berani memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri,” tegasnya.

Ia berharap KRA XIII menjadi ruang kolaborasi akademik yang inklusif, memperluas jejaring antarperguruan tinggi, mempertajam kualitas penelitian, sekaligus menghasilkan gagasan aplikatif untuk menjawab berbagai tantangan global.

Rolly kemudian secara resmi membuka Konferensi Internasional KRA XIII Tahun 2026.

Dian Agustia: Riset Akuntansi Harus Berlanjut hingga Publikasi

Ketua IAI KAPd, Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., CFrA., ACPA., CRP., CRA.,

Sementara itu, Ketua IAI KAPd, Prof. Dr. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., CFrA., ACPA., CRP., CRA., menegaskan bahwa konferensi bukan sekadar menjadi tempat mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga harus menjadi pintu menuju publikasi ilmiah yang berdampak.

Ia menjelaskan, sekitar 300 penelitian telah lolos untuk dipresentasikan dalam KRA XIII 2026. Setelah melalui proses presentasi, penilaian dan review, sebagian penelitian akan diarahkan untuk masuk ke berbagai jurnal, termasuk jurnal dengan reputasi internasional.

“Tidak berhenti hanya di penelitian atau laporan penelitian, tetapi harus masuk ke publikasi supaya impact daripada hasil penelitian itu bisa berdampak, baik untuk nasional maupun internasional,” jelas Dian.

Ia mengatakan proses publikasi memiliki standar yang ketat. Paper terlebih dahulu dikirimkan, kemudian diseleksi reviewer. Peneliti yang lolos selanjutnya melakukan presentasi dan mendapatkan penilaian dari pembahas. Dari proses tersebut akan ditentukan penelitian yang memenuhi standar untuk diarahkan ke publikasi.

Dian memperkirakan sekitar 200 paper berpotensi masuk dalam proses publikasi, meski keputusan akhir tetap bergantung pada hasil review dan kesesuaian dengan standar masing-masing jurnal.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi peneliti adalah kemampuan menulis artikel untuk publikasi internasional. Karena itu, forum seperti KRA menjadi penting untuk meningkatkan kualitas penelitian sekaligus kemampuan akademisi dalam menghasilkan publikasi yang memenuhi standar internasional.

Dian menekankan bahwa kegiatan penelitian dan publikasi seharusnya tidak lagi dipandang semata sebagai kewajiban dosen, tetapi berkembang menjadi budaya akademik.

“Penelitian bagi akuntan pendidik itu bukan menjadi kewajiban, tetapi sudah menjadi budaya untuk melakukan publikasi,” katanya.

Hal tersebut sejalan dengan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam KRA XIII 2026, pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, termasuk kegiatan yang menyasar pelaku UMKM.

Diikuti Puluhan Perguruan Tinggi

Dian menyampaikan, KRA XIII 2026 melibatkan peserta dari sekitar 45 perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, terdapat mahasiswa internasional dari sekitar delapan kampus yang tersebar di sejumlah negara, antara lain Pakistan, Australia, Singapura dan Malaysia.

Konferensi ini juga menghadirkan pembicara internasional dari tiga negara, sehingga kegiatan tersebut mempertemukan akademisi dari Indonesia dan sejumlah negara lainnya.

Menurut Dian, KRA merupakan agenda rutin IAI KAPd yang diselenggarakan secara regional. Selain Jawa Timur, konferensi regional juga digelar di berbagai wilayah Indonesia.

Hasil-hasil penelitian yang lahir dari forum tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat memberikan kontribusi terhadap kebijakan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.

“Pasti akan ada kontribusi, baik itu untuk pemerintah dalam kebijakan,” ujarnya.

Ketua DPN IAI: Profesi Akuntan Harus Berevolusi Menghadapi AI dan ESG

Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (DPN IAI), Dr. Ardan Adiperdana, MBA., Ak., CA., CFrA., FCMA., CGMA.

Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (DPN IAI), Dr. Ardan Adiperdana, MBA., Ak., CA., CFrA., FCMA., CGMA., dalam opening speech menilai KRA telah berkembang mengikuti perubahan zaman.

Ia mengapresiasi IAI KAPd, SBM Universitas Kristen Petra dan IAI Wilayah Jawa Timur yang terus menjaga keberlanjutan penyelenggaraan KRA dari tahun ke tahun.

Menurut Ardan, perjalanan KRA dari edisi pertama hingga KRA XIII menunjukkan bahwa tema konferensi terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia, mulai dari kesejahteraan, pembangunan berkelanjutan, disrupsi digital, future skills, artificial intelligence, etika hingga sustainability.

Dalam KRA XIII, terdapat tiga kata kunci yang menjadi perhatian utama, yakni ESG, Innovation, dan Impact, dengan semangat khas Jawa Timur melalui “Wani Rek”.

Ardan menjelaskan, ESG bukan sekadar kewajiban pelaporan. ESG merupakan kerangka bagi organisasi dalam mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola ke dalam pengelolaan risiko, pengambilan keputusan dan penciptaan nilai jangka panjang.

Di sinilah profesi akuntan memiliki peran strategis karena keberlanjutan membutuhkan informasi yang andal, dapat dibandingkan dan dapat dipercaya.

Perkembangan standar keberlanjutan yang mengacu pada standar International Sustainability Standards Board (ISSB) juga semakin memperkuat kebutuhan integrasi informasi keberlanjutan dalam ekosistem pelaporan.

Menurut Ardan, akuntan masa depan tidak cukup hanya menguasai angka keuangan. Mereka juga harus memahami ESG, teknologi, risiko jangka panjang dan dinamika bisnis.

“Artificial intelligence, data analytics, dan teknologi digital membuka peluang besar sekaligus mengubah kebutuhan kompetensi akuntan,” jelasnya.

Karena itu, pendidikan akuntansi harus memperkuat professional judgment, critical thinking, ethical reasoning, business understanding, communication, dan leadership.

AI, menurutnya, dapat membantu menghasilkan analisis, tetapi keputusan tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

“Manusia tetap bertanggung jawab menentukan apakah informasi tersebut relevan, apakah analisanya masuk akal dan bagaimana keputusan yang harus diambil,” tegas Ardan.

Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Publikasi

Ardan juga mengingatkan agar akademisi tidak berhenti pada pertanyaan apakah organisasi sudah menerapkan ESG.

Pertanyaan yang lebih penting adalah mengenai dampaknya.

Apakah penelitian menghasilkan perubahan? Apakah pendidikan menghasilkan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja? Apakah informasi keberlanjutan benar-benar membantu pengambilan keputusan?

“Keberhasilan kita pada akhirnya harus diukur bukan hanya dari laporan, standar, atau publikasi, tetapi dari nilai dan dampak yang dihasilkan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah agenda IAI untuk memperkuat ekosistem pendidikan, riset dan dunia usaha, termasuk forum “Bridging the Talent Gap, Aligning Higher Education with Business Needs” yang direncanakan pada 4 September 2026.

Agenda tersebut diarahkan untuk memperkuat link and match antara perguruan tinggi dan dunia usaha.

Selain itu, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke-29 di Riau dan berbagai agenda regenerasi profesi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi akuntan dan mahasiswa akuntansi.

Seluruh agenda tersebut, menurut Ardan, menjadi bagian dari perjalanan IAI menuju Kongres XV IAI pada Desember 2026.

OJK Dorong Keuangan Berkelanjutan dan Integrasi Risiko Iklim

Sophia Issabella Watimena, S.E., Ak., MBA., CA., QIA., FCPA (Aust.)

Keynote speaker pertama, Sophia Issabella Watimena, S.E., Ak., MBA., CA., QIA., FCPA (Aust.), yang pada materi konferensi tercantum sebagai Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK periode 2022–2026, membawakan materi “Driving Sustainable Finance in the Era of Global Transition: Integrating ESG, Innovation, and Governance for Long-Term Economic Resilience.”

Sophia mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan lingkungan semata. Dampaknya telah bertransformasi menjadi persoalan ekonomi dan keuangan.

Ia menjelaskan, pemanasan global akibat aktivitas manusia telah mencapai sekitar 1,37 derajat Celsius pada 2025. Dengan tren yang ada, dunia menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan batas kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius.

Dampak perubahan iklim juga semakin nyata, termasuk kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia yang dapat menghasilkan asap lintas batas hingga berdampak pada Malaysia dan Singapura.

Menurut Sophia, risiko iklim pada akhirnya akan menjadi risiko keuangan, baik melalui physical risk, transition risk, maupun risiko hukum dan strategis.

Karena itu, tantangan sektor keuangan bukan hanya membiayai ekonomi hijau, tetapi juga mengintegrasikan risiko iklim ke dalam manajemen risiko, memperkuat sustainability reporting dan menyediakan pembiayaan transisi bagi sektor-sektor yang membutuhkan transformasi.

TKBI Jadi Instrumen Pengarah Pembiayaan Berkelanjutan

Sophia menjelaskan berbagai kebijakan OJK dalam membangun ekosistem keuangan berkelanjutan Indonesia. Salah satunya melalui Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).

TKBI versi pertama diterbitkan pada 2024 dan pada tahap awal berfokus pada sektor energi. Pengembangannya kemudian diperluas pada 2025 dan kembali diperluas pada 2026 hingga mencakup sektor-sektor yang relevan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

Perluasan tersebut mencakup antara lain sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pengelolaan air serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Menurut Sophia, TKBI penting untuk mengarahkan modal dan pembiayaan kepada aktivitas yang mendukung pembangunan berkelanjutan maupun transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Dalam penilaian aktivitas ekonomi, data emisi gas rumah kaca juga menjadi salah satu input penting, termasuk Scope 1, Scope 2 dan Scope 3.

Scope 1 berkaitan dengan emisi langsung dari aktivitas yang berada dalam kendali organisasi. Scope 2 berkaitan dengan emisi tidak langsung dari energi yang dibeli, sedangkan Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lainnya di sepanjang rantai nilai.

Selain TKBI, OJK juga memperkuat pengelolaan risiko iklim melalui Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS) untuk membantu industri melakukan analisis skenario atas risiko iklim dalam aktivitas pembiayaan.

Pelaporan Keberlanjutan Memasuki Babak Baru

Sophia juga menyoroti penguatan standar pelaporan keberlanjutan di Indonesia yang mengacu pada standar ISSB, termasuk PSPK 1 dan PSPK 2 yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2027.

Perubahan tersebut menjadi momentum bagi perusahaan Indonesia untuk memperbaiki data, sistem dan proses pelaporan keberlanjutan.

Ia menilai kebutuhan transparansi global semakin tinggi. Investor, regulator dan pelaku pasar membutuhkan informasi yang lebih jelas mengenai emisi karbon, risiko iklim, strategi transisi dan ketahanan bisnis.

OJK juga tengah memperkuat kerangka regulasi, termasuk penyempurnaan POJK 51/2017, agar implementasi standar keberlanjutan dapat dilakukan secara lebih kredibel dan efektif.

Sophia menekankan, implementasi keberlanjutan tidak boleh hanya berorientasi pada kepatuhan terhadap regulasi.

“Yang dibutuhkan industri bukan sekadar compliance dengan regulasi baru, tetapi memastikan sustainability benar-benar terintegrasi dalam organisasi,” ujarnya.

Mardiasmo: Kepercayaan Publik Menjadi Fondasi Tata Kelola

Prof. Mardiasmo, MBA., Ph.D., CFrA., QIA., Ak., CA., FCMA., CGMA., ASEAN CPA., CPA (Aust.), CSFA.

Keynote speaker kedua, Prof. Mardiasmo, MBA., Ph.D., CFrA., QIA., Ak., CA., FCMA., CGMA., ASEAN CPA., CPA (Aust.), CSFA., yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas IAI, membawakan materi “Reinventing the Accounting Profession: Strengthening Trust, Governance, and Sustainable Development in the Era of Global Transition.”

Dalam paparannya, Mardiasmo menempatkan public trust atau kepercayaan publik sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun tata kelola dan legitimasi organisasi.

Menurutnya, perkembangan tata kelola harus melihat hubungan antara kepentingan komersial dan kepentingan publik. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika berbicara mengenai organisasi yang memiliki peran strategis terhadap negara, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ia menyoroti pentingnya tata kelola yang mampu menjembatani kepentingan bisnis, negara dan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, transparansi, pengawasan dan kejelasan arah kebijakan menjadi sangat penting.

Mardiasmo juga menyinggung perkembangan model governance yang terus berubah. Perubahan tersebut menuntut akademisi dan mahasiswa untuk tidak hanya memahami konsep tata kelola secara teoritis, tetapi juga melakukan evaluasi kritis terhadap evolusinya.

Ia bahkan mendorong mahasiswa untuk mengkaji secara kritis perkembangan governance 1.0 hingga governance 5.0, termasuk faktor yang mendorong perubahan model tata kelola tersebut.

Transformasi Digital Mengubah Cara Pengawasan

Mardiasmo juga mengaitkan perkembangan teknologi dengan sistem pengawasan dan pelaporan.

Menurutnya, transformasi digital membuat proses pengawasan tidak dapat lagi sepenuhnya mengandalkan pendekatan lama, termasuk penggunaan sampling secara konvensional apabila teknologi memungkinkan analisis data dilakukan secara lebih menyeluruh.

Pemanfaatan teknologi informasi, menurutnya, harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas pengawasan, mendeteksi kelemahan dan memastikan informasi yang disajikan benar-benar menggambarkan kondisi organisasi.

Hal ini sekaligus memperkuat pesan bahwa profesi akuntan sedang mengalami perubahan besar.

Akuntan tidak lagi cukup berperan sebagai pihak yang menghasilkan laporan keuangan. Profesi ini harus mampu memastikan kualitas informasi, memperkuat governance, menjaga kepercayaan publik dan memberikan perspektif yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

KRA XIII Jadi Titik Temu Riset, Profesi dan Dunia Usaha

Rangkaian pemaparan para narasumber dalam KRA XIII 2026 memperlihatkan satu kesamaan penting: profesi akuntansi sedang berada dalam fase transformasi besar.

Perubahan iklim, ESG, AI, digitalisasi, sustainability reporting, tata kelola dan tuntutan transparansi membuat kompetensi akuntan harus terus berkembang.

Di sisi lain, perguruan tinggi dituntut menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, dunia usaha dan pemerintah.

KRA XIII 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut melalui penelitian, publikasi, diskusi akademik, jejaring internasional dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan semangat “Wani Rek”, konferensi ini diharapkan mampu mendorong akademisi, mahasiswa dan profesi akuntansi untuk berani menghadapi perubahan, berani berinovasi, berani memperkuat tata kelola, serta berani menghasilkan karya yang memberikan dampak nyata bagi Indonesia.

KRA XIII 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai forum ilmiah tahunan, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem akuntansi Indonesia yang adaptif terhadap teknologi, kuat dalam etika, mampu menjawab tantangan keberlanjutan dan tetap berorientasi pada kepentingan publik.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!