- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – SD Al-Falah Surabaya menggelar puncak kegiatan proyek kelas bertajuk “Kelas Senang” yang telah berlangsung sejak Januari lalu. Acara ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang menekankan kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah nyata oleh siswa.

Kepala SD Al-Falah, Ustazah Yuni Wakhidah

Kepala SD Al-Falah, Ustazah Yuni Wakhidah, menjelaskan bahwa proyek ini dibagi dalam empat tema besar, yaitu budidaya tanaman, teknologi terapan, daur ulang, dan kewirausahaan. Siswa diberi kebebasan memilih tema dan merancang proyek mereka masing-masing, didampingi oleh guru pembimbing yang sesuai bidangnya.

“Anak-anak memilih sendiri judul proyek mereka. Dari situ kami tentukan guru pembimbing. Mereka dibimbing dari proses perencanaan hingga presentasi dan akhirnya pameran hari ini,” ujar Ustazah Yuni saat ditemui di sela acara pameran, Sabtu (25/5).

Dalam tema budidaya tanaman, siswa mencoba berbagai metode tanam seperti hidroponik. Di bidang teknologi terapan, sejumlah siswa menciptakan produk inovatif, di antaranya kipas tenaga surya, mini PLTA bertenaga angin, hingga solar water heater.

ads

Salah satu proyek menarik datang dari Razka dan Nabil yang membuat replika solar water heater. “Awalnya ide ini dari ayah saya. Kami merakit selama dua minggu. Suhunya seharusnya bisa sampai 34 derajat Celsius, tapi karena di dalam ruangan jadi kurang panas. Harapannya ke depan bisa pakai paralon besar, bukan botol plastik, supaya lebih tahan panas,” ujar Razka saat mendemonstrasikan karyanya. Proyek ini menghabiskan biaya sekitar Rp100.000 dan dibimbing langsung oleh guru dalam proses perakitan dan penyusunan laporan.

 

Sementara itu, dalam tema daur ulang, siswa menciptakan produk baru dari barang bekas seperti lampu hias, baju dari kain perca, serta parfum dari buah. Sedangkan pada tema kewirausahaan, siswa berinovasi membuat yoghurt dari susu sapi dan kambing, serta tempe dari berbagai jenis kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang tanah, dan kacang merah.

Pameran ini turut mengundang orang tua siswa serta adik-adik kelas untuk menyaksikan hasil karya kakak-kakak mereka. Orang tua juga dilibatkan dalam proses pendampingan anak selama pengerjaan proyek, baik di rumah maupun di sekolah.

“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah agar siswa mampu menjawab permasalahan di sekitarnya dan menjadi pribadi yang bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama,” tutur Ustazah Yuni.

Pameran ini tidak hanya menjadi ajang unjuk karya, tetapi juga menjadi bukti bahwa pendidikan dasar dapat menjadi lahan subur untuk menumbuhkan semangat inovasi, kepedulian lingkungan, dan jiwa wirausaha pada anak sejak usia dini.

(nald)