- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) SMA Negeri 5 Purworejo mendorong para siswanya untuk memiliki wawasan global dan memahami budaya negara-negara di dunia. Dorongan itu antara lain diwujudkan dengan menggelar Seminar bertajuk Cross Cultural Understanding di sekolah setempat, Kamis (3/1).

Dalam kegiatan itu, sekitar 225 siswa kelas XII berbagai jurusan diberi kesempatan mendapatkan pemahaman lintas budaya dari 7 orang mahasiswa internasional Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Masing-masing mahasiswa tersebut berasal dari negara Tanzania, Meksiko, Jepang, Madagaskar, Italia, Suriname, dan Rwanda. Para siswa juga diajak berinteraksi langsung dengan narasumber dipandu sejumlah pendamping yang juga tutor Bahasa Indonesia mahasiswa, antara lain Sausan.

Wakil Kepala Sekolah Urusan Humas SMAN 5 Purworejo, Heru Purwanto MPd BI, mengatakan bahwa seminar terkait pemahaman lintas budaya menjadi upaya sekolah agar siswa betul-betul memiliki wawasan global. Hal itu juga sesuai dengan penerapan budaya berjejaring di sekolah.

ads

“Kita terus berupaya mendorong dan memfasilitasi siswa untuk memahami budaya negara lain. Kegiatan seperti ini sekaligus menjadi sarana siswa untuk mengasah kemampuan berbahasa internasional sesuai dengan yang diperoleh dalam pembelajaran di kelas,” katanya.

Disebutkan, menghadirkan narasumber internasional bukan baru kali ini dilakukan. Sebelumnya, sekolah juga kerap melibatkan narasumber dari berbagai latar belakang profesi untuk berinteraksi dengan siswa.

“Belum lama ini kita juga datangkan dari Belgia. Jadi tidak hanya mahasiswa, kita sesuaikan dengan kebutuhan siswa,” sebutnya.

Menurut Heru, tantangan global kian ketat. Karena itu, para siswa harus membekali diri dengan softskill dan hardskill secara lengkap. Selain itu, siswa juga perlu memiliki kompetensi 4 C, yakni critical thinking, colaboration, creativity, dan comunication.

“Jika empat itu terampil, maka akan siswa akan bisa hadapi tantangan global,” jelasnya.

Kepala SMAN 5, Wicaksono Agus Purnomo MPd, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan seminar yang menjadi terobosan guru bahasa Inggris tersebut. Meski baru beberapa tahun dirutinkan, banyak dampak positif yang kini terlihat. Beberapa alumni tercatat menempuh studi di luar negeri, seperti Taiwan dan Inggris. Belum lama ini, sejumlah siswa juga mewakili Indonesia dalam sebuah konferensi internasional tahunan yang diadakan Desigh for Change (DFC) global di Taiwan.

“Dampak positifnya banyak terlihat. Harapan kami para siswa terus termotivasi untuk memiliki wawasan yang lebih luas,” ungkapnya.

Sementara itu, siswa kelas XII Bahasa, Dwika Damara, mengaku mendapatkan banyak informasi lebih detail dari sejumlah interaksinya dengan narasumber asing. Informasi-informasi itu melengkapi wawasannya yang diperoleh dalam pembelajaran di kelas.

“Misalnya, pernah ada orang Italia itu bilang bahwa Pizza asli itu hanya roti yang ditumpuk dengan roti dan saus, bukan seperti yang ada di indonesia kebanyakan. Informasi seperti ini tidak kita peroleh di kelas,” ujarnya bersama siswa lain yang juga kelas XII Bahasa, Aman Rosadi. (Daniel)