- iklan atas berita -

Metro Times (Semarang) Sebanyak 43 pengurus Dewan Pimpinan Daerah Keluarga Alumni Universitas Wahid Hasyim (DPD KAWAH) Provinsi Jawa Tengah dan sembilan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di Jawa Tengah Periode 2019-2024, Masa Bhakti Ke-I resmi dilantik dan dikukuhkan. Dalam acara itu sekaligus pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2021-2022, yang diadakan di hotel Horison In Alaska, Semarang, Sabtu (19/12/2020).

Adapun pelantikan itu dipimpin Rektor Unwahas, Prof. Dr Mahmutarom HR, pengukuhan dan penyerahan pataka dipimpin Ketua Umum DPP KAWAH, Herry Darman. Namun terlebih dahulu para pengurus dipangil satu persatu sesuai surat keputusan dalam dua tahap oleh Sekjend DPP KAWAH, Ali Maksum. Begitu selesai dilantik dan dikukuhkan Surat Keputusan di serahkan langsung oleh Bendahara Umum DPP KAWAH, Syamsu Dhuha kepada para ketua terlantik.

Dalam acara itu secara langsung dihadiri Kepala Badan Kesbangol Provinsi Jawa Tengah Haerudin, namun hingga akhir dilanjutkan Siswandi Suryanto selaku Kabid Ketahanan Bangsa, yang hadir mewakili Wakil Gubernur Jawa Tengah. Acara itu juga dihadiri Kepala Cabang Mybank Syariah Cabang Semarang Laily Qodariyah selaku pihak sponsor, dihadiri pula jajaran Wakil Ketua Umum DPP KAWAH.

Sejumlah pimpinan yang dilantik. Diantaranya, Jawa Tengah dipimpin Joko Susanto, sekretaris Aenul Yaqin dan Bendahara Arina Zulfa, dengan para wakilnya, M. Aji Resa Naufal, M. Yudi Rizki Imanudin, dan M. Ricza Irhamni. Untuk ketua cabang di Semarang ada Brilian Noor Fuzna, Grobogan ada Rini Widya Susanti, Jepara ada Habibul Mutjaba, Kendal ada M. Syaifudin Al Huda, Kudus ada Muh Muwahib, Pati ada Rendi Cahyono, Pemalang ada Adam Santoso, Purbalingga ada Subekti, terakhir Demak ada Nur Syafiqul Haq Al Qowwim.

ads

Dalam sambutannya, Rektor Unwahas, Prof Dr Mahmutarom HR, meminta para pengurus KAWAH yang saat ini masih terbentuk di Jateng. Kedepan alumni pusat harus mulai menyadari karena alumni Unwahas ada dari Sabang sampai Merauke. Dikatakannya, meskipun Unwahas baru 20 tahunan berdiri. Namun alumni Unwahas sudah ada di Tailand yang jumlahnya lebih dari 200, China ada 4 orang, Afganistan 22, Timor Leste 10 orang dan Irak ada 1 orang.

“Alumni yang dilahirkan di Unwahas itu mempunyai karakter berbeda-beda, namun dapat dipercaya, dan jujur. Saya hanya berpesan menjadi pengurus KAWAH adalah sebagai ladang pengabdian untuk mendarmabaktikan segala sesuatu yang dimiliki kepada organisasi alumni,”kata Mahmutatom.

Ia juga meminta pengurus menjalaninya dengan loyalitas karena kedepan pasti akan ada manfaatnya. Ia meminta dalam hidup ini tahapan apapun untuk di jalankan dan manfaatkan sebaik baiknya. Ia juga menceritaka Unwahas setiap tahun saat dies natalis selalu bertamu ke mantan Gubernur Jateng Mardiyanto.

“Kita senantiasa ke beliau, karena beliau juga berjasa untuk Unwahas, jadi yang punya jasa jangan dilupakan. Apalagi tradisi Unwahas adalah sikap toleran,”katanya.

Usai dilantik dan dikukuhkan, Ketua Kawah Jateng, Joko Susanto, meminta untuk ikhlas mengabdi di organisasi alumni. Apalagi keberadaan KAWAH di Jateng masih perdana berdiri. Dengan demikian ia meminta semua pengurus harus menanamkan kebanggan karena dapat disebut sebagai pendiri organisasi di semua tingkatan yang ada di Jawa Tengah. Ia juga menyebutkan, dalam kepengurusannya terdiri dari semua alumni dari semua fakultas baik di tingkat sarjana maupun magister.

“Kami beragam alumni isinya, fakultas yang ada di Unwahas semua terisi alumninya. Terpenting ini adalah lahan pengabdian buat kami semua, sebagai alumni sudah saatnya mewakafkan diri untuk turut serta membesarkan almamater,”kata Joko Susanto.

Siswandi Suryanto juga mengajak KAWAH bersinergi dengan pemerintah agar bisa berkontribusi, membantu apa yang menjadi kepentingan pemerintah daerah. Ia mengajak pengurus KAWAH untuk merawat etika dalam kehidupan sosial, baik langsung ataupun di dunia maya. Apalagi ditengah masanya generasi muda yang saat ini telah menjadi warga net di media sosial yang juga harus menjalankan etika agar tidak terjerat hukum.

“Saat ini Indonesia tercemar dengan disintegrasi bangsa, lantaran budaya luar mulai menggrogoti kehidupan sosial masyarakat. Belum lagi banyaknya paham radikal yang ingin memecah belah bangsa Indonesia dengan mencoba mengadu domba masyarakat untuk mengambil alih negara,”jelasnya. (jon/dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!