- iklan atas berita -

 

Metro Times (Surabaya) — Rata-rata OTT KPK adalah politisi yang menjadi pejabat publik. Ini yang membuat keprihatinan masyarakat akan kepercayaan yang telah diberikan kepada para politisi untuk membuat masyarakat sejahtera, tapi mensejahterakan diri sendiri.

Dengan keadaan yang memprihatinkan ini membuat salah satu pengusaha menyuarakan keprihatinan ini. Pengusaha Sutjipto Joe Angga mengatakan matinya rasa malu dalam diri politisi yang korupsi sebagai salah satu pemicu suburnya praktik rasuah di negeri ini.

Lanjut S.J. Angga menjelaskan, rasa malu adalah perasaan yang ada sejak lahir, itu yang diberikan Tuhan untuk kontrol perilaku yang tidak benar. Ini yang sengaja dihilangkan oleh para politisi yang korupsi, demi ambisi dan nafsu belaka.

“Rasa malu apabila melakukan tindakan tidak benar harus ada. Perasaan malu di dalam hati kalau melanggar aturan agama dan etika sosial,” kata Angga.

Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, rasa malu kepada orang lain perlu dijaga, sehingga mampu menjaga diri dari ambisi dan nafsu mensejahterakan diri sendiri, agar tidak malu di hadapan orang lain atau rakyat yang dipimpin.

S.J. Angga menggunakan istilah banalitas dalam praktik korupsi, yang secara etimologis berarti mati rasa, menganggap biasa atau memaklumi.

“Mendefinisikan banalitas rasa malu sebagai anggapan wajar terhadap praktik kejahatan dan tidak menganggap kejahatan itu sesuatu yang salah, sehingga melahirkan kompromi terhadap tindak kejahatan, termasuk korupsi,” papar Angga.

Menurut Angga yang maju dalam Pilkada Walikota Surabaya, para politisi dan pejabat publik harus melawan ancaman banalitas rasa malu ini, dengan kembali membangkitkan kesadaran bahwa korupsi itu bukan tindakan yang baik dan merugikan masyarakat. Rasa malu berbuat kejahatan korupsi adalah mekanisme peratahanan diri terhadap praktik rasuah itu.

“Kita jangan menyerah pada sinful nature kita. Dan harus kembangkan rasa malu berbuat salah. Suatu saat apa yang kita lakukan di bumi ini akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan,” pungkas S.J. Angga. (nald)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here