- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo) Petani Tembakau di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menuai berkah dari Fenomena El Nino yang kini tengah melanda hampir setiap wilayah di Indonesia. Saat ini sebagian petani sudah mulai menikmati hasil panen menuju puncak panen raya yang diperkirakan akan berlangsung pada akhir Agustus hingga Oktober 2023.

El Nino merupakan fenomena alam yang berdampak terhadap penurunan curah hujan hingga memicu adanya bencana kekeringan. Bagi tanaman pangan hal itu tentu akan membawa dampak pada pengurangan produksi bahkan gagal panen akibat minimnya sumber air, namun tidak bagi tanaman tembakau.

Sepertinya yang dialami petani tembakau di Desa Karangmulyo Kecamatan Purwodadi, Purworejo. Bagi mereka kemarau panjang justru menjadi berkah karena hasil panen daun tembakau yang mereka tanam akan lebih maksimal.

“Tembakau adalah tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air. Justru kalau air berlebihan dia bisa mati, maka saat yang tepat untuk tanam tembakau adalah musim kemarau. Alhamdilillah untuk tahun ini kemarau datang lebih awal dan sepertinya akan berakhir lebih lambat. Bagi kami ini menjadi berkah tersendiri,” kata Supriyanto, petani Tembakau Desa Karangmulyo, Sabtu (12/8/2023).

Dia berharap, hasil panen para petani tembakau tahun ini bisa lebih maksimal, seiring dengan musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung lebih lama dibanding tahun lalu.

ads

Hal senada dikatakan Sekretaris Desa Karangmulyo, Tuviantoro. Ia mengutarakan di desa tersebut terdapat 10 hektar ladang tembakau yang efektif berproduksi setiap musim kemarau. Selain menanam sendiri, tidak sedikit petani di desa ini yang menjalankan usaha semai benih tembakau.

“Sehingga selain menikmati hasil panen dari daun tembakau, teman-teman petani juga bisa dapat hasil dari penjualan ini. Untuk tahun ini hasilnya lumayan, baik dari benih maupun dari daun yang akan dioleh menjadi tembakau kering,” katanya.

Ia menyebutkan petani di Desa Karangmulyo sudah sejak lama mengembangkan tembakau dengan jenis atau varietas kenanga. Selain memiliki daun yang tebal dan lebar, diyakini kandungan nikotin tembakau tersebut cukup tinggi dibanding varietas lain.

“Di sini semua petani tanam tembakau kenongo, termasuk yang disemai dan dijual. 50 persen bibit tembakau yang tanam di kecamatan lain itu berasal dari Karangmulyo, para petani di sana ambil bibitnya di sini. Kalau kalau bicara bibit tembakau ya Karangmulyo tempatnya,” ujarnya menambahkan.

Untuk penanaman, para petani di Karangmulyo memanfaatkan ladang yang berada di bantaran Sungai Bogowonto. Selain mempermudah proses penyiraman, lahan di tepi sungai Bagowonto dinilai lebih subur sehingga bisa menghasilkan daun tembakau kering yang berkualitas.

Kepala Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian, Purworejo, Arie Sulistyani mengatakan, setidaknya sudah ada enam kecamatan eksisting yang rutin menghasilkan tembakau kering setiap tahun

Enam kecamatan itu meliputi, Purwodadi, Purworejo, Bagelen, Kutoarjo, Kemiri, serta Grabag. Selain itu ada dua kecamatan yang kini sedang melakukan uji coba pengembangan yakni Kaligesing dan Bruno.

“Untuk tembakau, saat ini ada sekitar 500 hektar lahan yang eksisting. Tembakau ini tanaman vegetatif yang tidak banyak membutuhkan air, sehingga tanamnya hanya saat musim kemarau tiba,” pungkasnya.(Dnl)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!